Agama atau Bius Massal? Ketika Ibadah Hanya Menenangkan, Bukan Membela

- Minggu, 11 Januari 2026 | 13:20 WIB
Agama atau Bius Massal? Ketika Ibadah Hanya Menenangkan, Bukan Membela

Koruptor yang mencuri uang triliunan bisa tersenyum lebar di kursi pesakitan. Tapi pencuri ayam bisa dipukuli beramai-ramai.

Perusahaan yang menggunduli hutan disebut sebagai ‘investasi’. Rakyat yang menebang satu pohon untuk kayu bakar langsung dicap sebagai ‘perusak lingkungan’.

Ini jelas bukan keadilan. Ini adalah bukti nyata betapa bobrok dan semrawutnya kekuasaan.

Tapi kenapa kita jarang marah pada sistem ini? Menurut sejumlah pengamat, jawabannya sederhana: sejak kecil, kita lebih sering diajari untuk menerima daripada diajari untuk berpikir kritis. Dan di sinilah, agama versi yang diinterpretasikan oleh elite memainkan perannya. Bukan agama sebagai suara nurani, melainkan agama sebagai alat untuk menjinakkan.

Lalu, siapa sebenarnya pelaku di balik semua ini? Jangan berbelit-belit. Musuhnya adalah koalisi tiga serangkai: oligarki atau pemilik modal besar, politisi yang menjadi kepanjangan tangan mereka, dan elite agama yang menjual tafsir untuk kepentingan kekuasaan.

Oligarki butuh sistem yang stabil agar bisa terus mengeruk sumber daya. Politisi butuh dana untuk berkuasa. Elite agama butuh panggung dan pengaruh. Kesepakatannya simpel: “Kamu jangan ganggu bisnis saya. Saya biayai kekuasaan kamu. Dan kamu, tolong jaga agar rakyat tetap tenang dan tidak memberontak.”

Caranya? Bukan dengan tank atau senjata. Tapi dengan mimbar dan ceramah. Rakyat jangan diajari menganalisis struktur ketidakadilan. Ajarilah mereka untuk sibuk memikirkan dosa-dosa pribadi. Alihkan pertanyaan kritis seperti, “Mengapa tanah dikuasai segelintir orang?” menjadi, “Mengapa shalat saya belum khusyuk?”.

Arahkan kemarahan rakyat jangan sampai ke sistem, tapi ke sesama mereka sendiri: beda mazhab, beda pilihan politik, beda selera. Dan strategi ini, sayangnya, sangat berhasil.

Lihat saja media sosial. Ributnya tentang simbol-simbol dan tuduhan penistaan. Ributnya tentang skandal moral pejabat yang sepele. Ributnya tentang siapa figur paling suci untuk memimpin. Sementara itu, diam-diam, tambang dibagi-bagi, hutan digunduli, laut dikapling-kapling. Hampir tidak ada yang ribut. Inilah yang namanya pengalihan isu secara massal.

Agama yang seharusnya menjadi alat perlawanan terhadap kezaliman, dipelintir menjadi alat untuk melegitimasi kezaliman itu sendiri.

Contohnya mudah. Buruh menuntut upah layak? Dibilang, “Jangan iri, rezeki sudah diatur.” Petani digusur dari lahannya? Dihibur dengan, “Ini ujian kesabaran.” Rakyat yang protes? Ditegur, “Jangan buat rusuh, nanti dosa.”

Tapi ketika perusahaan merusak alam? Itu disebut “demi pembangunan.” Pejabat korup? “Ya, namanya juga manusia, tempatnya khilaf dan lupa.”

Perhatikan polanya. Kesalahan yang bersifat struktural selalu dikecilkan. Sementara kesalahan individu rakyat kecil selalu dibesar-besarkan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi yang disengaja. Dan elite agama yang terlibat dalam permainan ini, sadar atau tidak, sedang bertindak sebagai satpam bagi sistem yang menindas umatnya sendiri.

Lantas, apa solusinya?

Pertama, kita harus berhenti menjadi umat yang hanya bisa menurut. Agama bukan cuma soal ritual ibadah semata. Inti dari agama seharusnya adalah keadilan. Jika ada sistem yang membuat jutaan orang menderita sementara segelintir orang hidup bak dewa, itu adalah masalah moral yang serius, bukan sekadar persoalan ekonomi.

Kedua, kita perlu mengembalikan fungsi agama ke posisi aslinya. Bukan untuk menenangkan korban, tapi untuk membela korban dan melawan pelaku kezaliman. Nabi mana pun, dalam agama apa pun, selalu berdiri di pihak yang lemah.

Ketiga, kita harus belajar berpikir secara struktural. Jika kamu miskin, jangan cuma bertanya, “Apa salah saya?” Tanyakan juga, “Sistem apa yang membuat saya tetap miskin meski sudah bekerja mati-matian?” Jika negara ini rusak, jangan cuma menyalahkan moral rakyat. Tanyakan, “Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kerusakan ini?”

Keempat, kita harus mulai curiga pada ceramah-ceramah yang hanya membuat kita jadi jinak dan pasrah. Agama yang sehat seharusnya memberimu keberanian, bukan hanya kepatuhan buta. Membuatmu punya nyali untuk melawan, bukan hanya tahan dipukul.

Dan yang terakhir, jangan mau lagi dibius dengan dalil-dalil yang dipotong konteksnya. Jika ada yang bilang, “Sabar, ini ujian,” coba tanya balik, “Siapa yang membuat ujian ini?” Jika ada yang bilang, “Ini takdir,” tanyakan, “Atau ini hasil dari kebijakan manusia yang salah?”

Karena selama rakyat hanya disuruh ikhlas tanpa pernah diberi keadilan, yang kaya akan terus berpesta, dan yang miskin akan terus disuruh berdoa. Bangsa yang hanya disuruh berdoa tanpa pernah diajari melawan ketidakadilan, itu bukan bangsa yang religius. Itu adalah bangsa yang berhasil dijinakkan.


Halaman:

Komentar