Dari Harga Jadi Hujatan
Awalnya, ini semua berawal dari kenaikan harga dan inflasi yang melonjak sejak 28 Desember. Tapi, amarah rakyat dengan cepat berubah haluan. Tuntutan ekonomi merembet jadi seruan politik yang terang-terangan.
Dalam sebuah video dari kawasan Saadatabad, Teheran, yang berhasil diverifikasi Reuters, teriakan massa terdengar jelas dan menusuk: "Mati untuk diktator!" dan "Mati untuk Khamenei!"
Pemerintah Iran punya tudingan lain. Mereka menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang yang mengobarkan kerusuhan dari luar. Tekanan internasional kian menjadi setelah Presiden AS kala itu, Donald Trump, menyatakan negaranya "siap membantu" rakyat Iran dalam "mencari kemerdekaan". Komentar yang justru dianggap sebagai bahan bakar.
Korban Berjatuhan di Dua Sisi
Lembaga HAM Iran, HRANA, mencoba menghitung kerugian jiwa. Setidaknya 50 demonstran dan 15 aparat keamanan tewas. Angka yang ditangkap jauh lebih besar: sekitar 2.300 orang sejak protes bergulir.
Dari balik pintu rumah sakit di Iran barat laut, seorang dokter membuka suara. Sejak Jumat (9/1), mereka kebanjiran puluhan demonstran dengan luka-luka. Kondisinya beragam, mulai dari bekas pukulan, cedera kepala serius, patah tulang, sampai luka sayatan yang dalam.
Yang paling mengerikan, setidaknya 20 orang di satu rumah sakit datang dengan luka tembak peluru tajam. Dari jumlah itu, lima nyawa tak tertolong.
Artikel Terkait
Travelator YIA Mati Suri, Diduga Demi Lariskan Warung UMKM
Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara
Jalan Tol Menuju IKN Ambruk, Diduga Akibat Hujan Deras dan Pergerakan Tanah
Dunia Waspada: Langkah Trump ke Venezuela Buka Luka Lama Pengaruh Global AS