Diam Bukan Kosong: Perlawanan Sunyi di Era Kebisingan

- Minggu, 11 Januari 2026 | 09:06 WIB
Diam Bukan Kosong: Perlawanan Sunyi di Era Kebisingan

Dalam dunia pendidikan, peran keheningan juga krusial. Belajar yang sesungguhnya selalu butuh jeda. Pengetahuan nggak bisa tumbuh cuma dari menimbun informasi. Ia butuh waktu untuk mengendap. Ruang kelas yang terus berisik sering gagal menciptakan pemahaman mendalam. Siswa disuruh bicara, tapi tak pernah diberi kesempatan untuk merenung. Padahal, dalam kesunyianlah pertanyaan-pertanyaan yang jujur bisa lahir. Dari situlah pemikiran kritis berakar.

Tak ketinggalan, dimensi spiritual juga memperkaya makna keheningan. Hampir semua tradisi agama mengakui nilai diam sebagai jalan pemurnian batin. Saat hening, kita berhadapan dengan diri sendiri, tanpa topeng apa pun. Kebisingan di luar sering jadi pelarian dari kegelisahan hidup. Keheningan memaksa kita menatap langsung keterbatasan dan kerapuhan diri. Dan dari pertemuan yang tidak nyaman itulah, lahir kesadaran dan tanggung jawab.

Sebenarnya, penolakan kita pada keheningan mencerminkan sebuah ketakutan kolektif. Diam dianggap berbahaya karena membuka pintu bagi refleksi. Dan refleksi itu punya potensi menggugat kebiasaan-kebiasaan mapan yang nyaman. Makanya, masyarakat yang betah dengan rutinitas dangkal cenderung memusuhi kesunyian. Mereka memenuhinya dengan notifikasi dan obrolan tanpa arti. Dalam kondisi seperti itu, keberanian untuk diam jadi sebuah kualitas yang langka.

Tapi perlu dicatat, keheningan bukan untuk menghapus komunikasi. Justru sebaliknya, ia memurnikannya. Kata-kata yang lahir dari perenungan panjang punya bobot yang berbeda. Baik secara etis maupun intelektual.

Kata-kata seperti itu bukan cuma pengisi ruang kosong, tapi pembentuk makna. Jadi, diam sebenarnya adalah prasyarat bagi bahasa yang bertanggung jawab. Tanpanya, bahasa kehilangan alasan untuk ada dan berubah jadi sekadar kebisingan yang kosong.

Masa depan kehidupan publik kita, pada akhirnya, tergantung pada kemampuan kita menghargai keheningan. Tanpa ruang sunyi, masyarakat akan terus terperangkap dalam pusaran obrolan reaktif. Kebijakan lahir dari kegaduhan. Hubungan sosial dibangun di atas kesalahpahaman. Keheningan menawarkan jalan lain. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan berpikir lebih jernih. Dari sanalah keputusan-keputusan bijak bisa tumbuh.

Jadi, pada hakikatnya, keheningan bukanlah pelarian. Ia adalah cara yang paling jujur untuk kembali ke dunia, dengan kesadaran yang penuh. Dalam diam, kita belajar mendengar dengan lebih utuh: mendengar realitas, mendengar sesama, dan yang paling sulit, mendengar diri sendiri. Masyarakat yang bisa menghormati keheningan, sedang membangun fondasi peradaban yang matang. Sebuah peradaban yang tidak takut untuk berpikir dulu, sebelum berbicara.


Halaman:

Komentar