Di era kita sekarang, suara seolah jadi tolok ukur eksistensi. Kalau kamu terdengar, kamu dianggap ada. Kalau lantang, dianggap berpengaruh. Dunia digital malah mendorong logika ini sampai ke titik yang ekstrem. Semua pikiran harus segera jadi pernyataan. Setiap perasaan dipaksa jadi opini.
Dalam lanskap seperti ini, keheningan sering disalahpahami. Ia dilihat sebagai kekosongan, sebuah tanda ketiadaan. Padahal, anggapan itu cuma muncul dari pemahaman yang dangkal soal apa artinya benar-benar hadir dan berdaya.
Diam sama sekali bukan berarti otak ikut mati. Justru sebaliknya. Keheningan seringkali adalah pertanda kerja batin yang sedang serius. Seorang pemikir tidak melulu melontarkan gagasan saat mulutnya terbuka. Tak jarang, ide-ide terbaik justru datang saat kata-kata ditahan. Filsafat klasik sudah paham betul soal ini.
Plato, misalnya, menempatkan kontemplasi sebagai langkah utama sebelum debat. Para mistikus dari berbagai tradisi memilih jalan sunyi untuk meraih kejernihan. Di ruang yang hening itulah, pikiran belajar menimbang dirinya sendiri.
Sayangnya, budaya modern berjalan ke arah berlawanan. Semuanya harus cepat. Respons instan dihargai lebih tinggi ketimbang perenungan yang butuh waktu. Akibatnya bisa ditebak: wacana publik ramai oleh suara-suara keras, tapi dangkal isinya.
Opini berseliweran tanpa dasar pengetahuan yang kuat. Emosi kerap menggantikan argumen. Nah, dalam situasi kayak gini, memilih untuk diam justru jadi sebuah sikap etis. Itu adalah penolakan halus untuk ikut serta dalam arus obrolan yang hambar. Sebuah penundaan, demi tanggung jawab intelektual.
Di sisi lain, diam juga punya dimensi politis yang kerap diabaikan. Di masyarakat yang mengukur nilai dari seberapa sering kamu tampil, memilih untuk tidak bersuara itu sendiri adalah perlawanan. Tindakan itu bukan bentuk pasrah, tapi penegasan otonomi.
Dengan diam secara sadar, seseorang menolak tunduk pada tuntutan algoritma yang rakus akan atensi. Ia mengambil jarak dari ekonomi perhatian yang mengubah manusia jadi sekadar komoditas data. Maka, keheningan berubah wujud jadi bentuk perlawanan yang halus, tapi radikal maknanya.
Artikel Terkait
Derita Warga Sawangan Usai Bentrok Suporter Ricuhkan Malam Minggu
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake