Semeru Muntahkan Awan Panas 4 Kilometer, Status Siaga Tetap Diberlakukan

- Jumat, 09 Januari 2026 | 16:35 WIB
Semeru Muntahkan Awan Panas 4 Kilometer, Status Siaga Tetap Diberlakukan

Gunung Semeru kembali menunjukkan keganasannya. Sore ini, tepatnya Jumat 9 Januari 2026, puncak tertinggi di Jawa Timur itu mengeluarkan amarahnya. Pukul 15.13 WIB, erupsi terjadi, melontarkan awan panas guguran yang mengerikan sejauh empat kilometer.

Langit di sekitar puncak langsung berubah kelabu. Menurut catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kolom abu membubung tinggi, mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak. Kalau dihitung dari permukaan laut, ketinggiannya nyaris 5.700 meter. Abu yang tebal itu terlihat condong mengarah ke utara dan timur laut, menebar ancaman ke wilayah di bawahnya.

“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sementara ± 19 menit 52 detik. Terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 4.000 meter,”

Begitu bunyi keterangan resmi dari PVMBG. Yang mencemaskan, erupsi disebutkan masih berlangsung saat laporan pertama itu dibuat. Situasinya dinamis dan benar-benar harus diwaspadai.

Status Siaga atau Level III tetap melekat pada Semeru. Imbauan untuk warga pun jelas dan tegas: jangan sekali-kali mendekat. Aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak, harus dihindari total. Itu zona bahaya utama.

Di luar jarak itu pun, kewaspadaan tak boleh kendur. Masyarakat yang tinggal di dekat aliran sungai diminta menjauh dari tepian Besuk Kobokan minimal 500 meter. Ancaman perluasan awan panas dan aliran lahar bisa menjalar hingga 17 km. Bahaya lontaran batu pijar juga mengintai, sehingga radius 5 km dari kawah mutlak jadi zona terlarang.

Intinya, semua aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru seperti Besuk Kobokan, Bang, Kembar, dan Sat berpotensi jadi jalur maut bagi awan panas, guguran lava, dan lahar. Bahkan anak-anak sungai kecil dari Besuk Kobokan pun tak boleh dianggap remeh. Semeru sedang murka, dan kita hanya bisa mengamati dari kejauhan, sambil berharap semua warga di lerengnya tetap selamat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar