Lewat sebuah video di kanal YouTube pribadinya, mantan Menteri ESDM Sudirman Said tak tanggung-tanggung menyebut kondisi Indonesia. Menurutnya, negeri ini tengah dilanda "bencana institusional". Kritik pedas itu dilontarkannya pada Ahad lalu.
Dampaknya, kata dia, bakal paling terasa oleh anak-anak muda sekarang. "Republik kita sedang mengalami bencana institusional," ujar Sudirman.
"Institusi demokrasi, institusi hukum, institusi trias politika kita, bahkan ormas sampai pada urat saraf berbangsa mengalami bencana kelembagaan."
Empat Masalah Besar yang Menganga
Sudirman membeberkan setidaknya empat pekerjaan rumah yang mendesak. Yang pertama soal demokrasi. Ia melihat keseimbangan sudah jauh panggang dari api. Fungsi DPR sebagai lembaga legislatif, pengawas, dan penganggaran dinilainya tak berjalan. Malah, DPR dianggapnya kini nyaris jadi bagian dari eksekutif.
"Bagaimana mungkin pimpinan legislatif ikut rapat dalam ruang-ruang terbatas bersama dengan tim eksekutif," kritiknya.
PR kedua adalah penegakan hukum yang dianggapnya timpang. "Tajam ke bawah, tumpul ke atas," katanya. Hukum, lanjut Sudirman, kerap jadi alat penguasa. Ia menyebut contoh kasus di mana keputusan kepolisian justru bertolak belakang dengan putusan Mahkamah Konstitusi.
Lalu yang ketiga, soal pemberantasan korupsi yang harus betul-betul serius. Nah, untuk bisa mengatasi ketiga masalah tadi, syarat mutlaknya adalah poin keempat: kepemimpinan. Dibutuhkan pemimpin yang otentik, membumi, dan bisa jadi teladan.
Meritokrasi dan Bencana di Sumatra
Membahas bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumbar, dan Sumut, Sudirman angkat bicara soal meritokrasi. Menurutnya, prinsip inilah yang harus dipakai saat membentuk tim khusus untuk rekonstruksi.
"Orang ditunjuk karena kapasitas, rekam jejak, prestasi, dan integritas. Penunjukannya melalui proses yang fair," tegasnya.
Kalau penunjukan hanya berdasarkan kedekatan atau nepotisme, ya percuma. Harapan masyarakat untuk pulih cepat hanya akan jadi angan-angan. Ia lalu mengenang masa Orde Baru awal, di mana Soeharto mendapuk ekonom-ekonom terbaik macam Wijoyo Nitisastro untuk atasi krisis. Hasilnya? Inflasi bisa diredam, kebutuhan pangan terpenuhi.
Peringatan dari Sejarah
Sudirman mengajak kita menengok sejarah. Kekaisaran besar macam Romawi, Ottoman, atau Mongol pun akhirnya runtuh. Penyebabnya klasik: pemimpin lemah, korup, hukum kacau balau.
"Kita tidak ingin terlalu pesimis," ujarnya. "Tetapi bila kita tidak segera menyelesaikan ini, bukan tidak mungkin akibatnya akan menuju pada keruntuhan atau kemerosotan cara bernegara."
Yang bakal merasakan akibat terparah dari kerusakan institusi ini bukan generasinya yang 'menjelang magrib'. Melainkan generasi muda usia 20-an hingga 40-an tahun sekarang.
Ajakan untuk Anak Muda
Lalu, apa yang bisa dilakukan pemuda? Sudirman memberi empat saran. Pertama, berserikat. Berkumpul dalam kelompok diskusi atau komunitas yang peduli masa depan bangsa.
Kedua, asah gagasan. Tentang republik, ekonomi, lapangan kerja, dan pendidikan ke depan. "Jangan menjadi pengekor buzzer yang mengamplifikasi pikiran-pikiran sesak," pesannya.
Ketiga, bangun jembatan. Jangkau sebanyak mungkin kelompok yang punya visi dan kegelisahan serupa. Jangan eksklusif. Keempat, tahan uji. Jaga ketangguhan dan jangan takut menghadapi risiko.
Dukungan untuk yang Diteror
Di bagian lain, Sudirman menyebut para influencer dan opinion leader yang belakangan dapat teror. Mulai dari dikirimi potongan ayam, kepala babi, sampai ancaman dan coretan di mobil.
Ucapannya justru mendukung. "Itu artinya suaramu didengar, suaramu diperhatikan. Jangan surut, jangan mundur, jangan takut. Teror itu berhasil kalau kitanya surut."
Ia pun berbagi pengalaman pribadi saat masih menjabat menteri. Kantornya di Kuningan pernah ditembak peluru saat sedang urus mafia migas. "Kalau mereka mau bunuh saya di mana-mana bisa dilakukan. Itu nakut-nakutin. Kalau kita takut betul-betul, mereka sukses," tuturnya.
Di akhir pesannya, Sudirman mengajak generasi muda untuk tak membiarkan masa depan mereka "dibajak oleh para penjajah bangsa sendiri". Waktunya untuk bersiap dan merebut kesempatan memperbaiki negara.
Artikel Terkait
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi
Kejati Sulsel Periksa Mantan Pimpinan DPRD Terkait Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar