Tapi coba deh, kalau kamu merasa semua pegawai pajak itu suci bersih, lalu langsung tersinggung saat ada yang berprasangka buruk… ya kamu sendiri yang lebay. Jangan-jangan kamu yang mengira semuanya sudah sempurna.
Dalam agama yang saya anut, disebutkan bahwa dari tiga jenis hakim, dua di antaranya masuk neraka.
Lalu pegawai pajak? Wah, yang ini sih nggak disebut spesifik. Tapi coba pikir: memajaki orang lain, sampai-sampai tarifnya bisa 35 persen, apa kita terlalu percaya diri merasa akan baik-baik saja nanti? Sesekali, renungkanlah profesi kita masing-masing. Saya sebagai penulis, sampai detik ini, masih sering ketakutan. Jangan-jangan menulis fiksi itu termasuk sesat. Pegangan saya sangat terbatas. Bisa saja saya salah pegang.
Pada akhirnya, buat para pegawai pajak di mana pun, saya cuma mau bilang ini: semoga kalian tahu harus ‘galak’ ke siapa di negeri ini. Perusahaan tambang dan sawit, konglomerat raksasa di sana apakah kalian berani membuka tilang mereka? Atau jangan-jangan selama ini kalian justru ramah dan sopan sekali ke mereka? Sementara ke bisnis kecil, UMKM, atau profesi seperti penulis, kalian begitu garang? Diperiksa habis-habisan hanya karena pajak yang jumlahnya secuil dibanding tax holiday perusahaan besar?
Lagipula, nggak usah lebay juga mengejar setoran pajak. Uangnya dipakai buat apa, sih? Buat bancakan proyek macam-macam, dan seterusnya. Cukup kerjakan saja tugasmu sesuai jam kerja. Sebisamu. Sejujurmu. Nggak usah sok patriotis atau terobsesi mengejar target sampai menghalalkan segala cara. Permudah urusan orang. Lebih baik fokus urus keluarga sendiri. Kalau sudah merasa nggak kuat, ya cari saja pekerjaan lain. Wiraswasta, misalnya. Pasti lebih tenang jiwanya.
(Tere Liye)
Artikel Terkait
Di Balik Gaduh KUHP Baru: Ketika Hukum Berubah Jadi Hantu di Ruang Publik
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Pidie Aceh Pagi Ini
Jakarta Diguyur Hujan Sepanjang Hari, Waspada Petir Mengancam
ASEAN Buka Pintu untuk Mata Uang BRICS, Dominasi Dolar Mulai Tergoyang?