“Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?” tantangnya.
Menurut analisisnya, bencana di Sumatera itu ulah manusia. Titik. Bahkan, kerusakan itu didukung oleh kebijakan yang salah arah. Kawasan hutan penyangga kehidupan, yang mestinya berfungsi seperti spons, malah berubah jadi ladang eksploitasi. Hutan alam dibabat, diganti tanaman seragam yang akarnya dangkal dan rapuh.
“Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Megawati.
Dan kerusakan ini, lanjutnya, dilembagakan oleh aturan.
“Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem. Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban.”
Di akhir pidatonya, Megawati mengingatkan pesan sang ayah, Bung Karno. Pesan yang sederhana tapi dalem banget maknanya, dan sayangnya, terbukti tragis sekarang.
“Bung Karno telah mengingatkan kita sejak awal Republik berdiri. Tahun 1946, beliau berkata dengan sangat sederhana namun mendalam, ‘Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air’. Hari ini, kebenaran itu terbukti secara tragis,” tandas Megawati.
Artikel Terkait
Hujan Tak Henti, Dua Jembatan di Donggala Putus Diterjang Banjir
Wajah Kita di Ujung Tangan AI: Pemerintah Tutup Akses Grok AI
Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem
Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama