Selama Satu Dekade, Kekayaan Bauksit Indonesia Tergerus ke Tangan Asing dan Oligarki
Oleh: Muhammad Said Didu
Bauksit. Mungkin namanya tak sepopuler emas atau batu bara, tapi batuan sedimen ini adalah harta karun yang nyata. Ia merupakan sumber utama aluminium komersial di seluruh dunia.
Logam yang dihasilkannya menjadi tulang punggung industri modern. Dari badan pesawat hingga bingkai jendela, dari kaleng minuman hingga kabel listrik, semua membutuhkan aluminium. Bahkan, bauksit juga punya peran dalam produksi semen khusus. Intinya, ini komoditas strategis.
Lalu, bagaimana nasibnya di Indonesia? Fakta yang ada cukup mencengangkan. Cadangan bauksit kita luar biasa besar, mencapai 2,8 miliar ton. Angka itu menempatkan kita di peringkat keempat dunia, menguasai hampir 10% cadangan global. Kekayaan itu tersebar di empat provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Namun begitu, cerita pengelolaannya justru berbanding terbalik dengan besarnya potensi. Ambil contoh tahap pemurnian bauksit menjadi SGA atau CGA. Dulu, BUMN seperti Antam dan Inalum memegang kendali penuh, 100%. Sekarang? Porsinya merosot tajam.
Artikel Terkait
Anggota DPRD Kupang Ditahan, Terancam Pasal KDRT dan Perlindungan Anak
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa
KPK Naikkan Batas Hadiah yang Tak Perlu Dilaporkan, Kini Rp 1,5 Juta
Siklus Bencana di Indonesia: Antara Respons Darurat dan Mitigasi yang Terlupakan