Satu Dekade Bauksit Indonesia: Dari Bumi Nusantara ke Genggaman Asing

- Kamis, 11 Desember 2025 | 09:20 WIB
Satu Dekade Bauksit Indonesia: Dari Bumi Nusantara ke Genggaman Asing

Selama Satu Dekade, Kekayaan Bauksit Indonesia Tergerus ke Tangan Asing dan Oligarki

Oleh: Muhammad Said Didu

Bauksit. Mungkin namanya tak sepopuler emas atau batu bara, tapi batuan sedimen ini adalah harta karun yang nyata. Ia merupakan sumber utama aluminium komersial di seluruh dunia.

Logam yang dihasilkannya menjadi tulang punggung industri modern. Dari badan pesawat hingga bingkai jendela, dari kaleng minuman hingga kabel listrik, semua membutuhkan aluminium. Bahkan, bauksit juga punya peran dalam produksi semen khusus. Intinya, ini komoditas strategis.

Lalu, bagaimana nasibnya di Indonesia? Fakta yang ada cukup mencengangkan. Cadangan bauksit kita luar biasa besar, mencapai 2,8 miliar ton. Angka itu menempatkan kita di peringkat keempat dunia, menguasai hampir 10% cadangan global. Kekayaan itu tersebar di empat provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, dan Kepulauan Bangka Belitung.

Namun begitu, cerita pengelolaannya justru berbanding terbalik dengan besarnya potensi. Ambil contoh tahap pemurnian bauksit menjadi SGA atau CGA. Dulu, BUMN seperti Antam dan Inalum memegang kendali penuh, 100%. Sekarang? Porsinya merosot tajam.

Di bawah rezim Jokowi, kendali itu berpindah ke 17 perusahaan asing dan swasta. Kapasitas produksi mereka mencapai 27 juta ton, sementara BUMN cuma sanggup 1 juta ton. Kalau dihitung, porsi negara kini cuma sekitar 3,6%. Sebuah penurunan yang dramatis.

Sebagai catatan, SGA atau Smelter Grade Alumina adalah bauksit murni berkualitas tinggi, bahan baku utama untuk membuat aluminium. Kadarnya minimal 42%, diolah melalui Proses Bayer, dan tujuannya jelas: menambah nilai mineral kita di dalam negeri.

Sedangkan CGA (Chemical Grade Alumina) punya kemurnian lebih tinggi lagi, minimal 90%. Produk ini bukan langsung dari tambang, melainkan hasil olahan smelter. Penggunaannya beragam, mulai dari industri kimia, keramik, hingga komponen elektronik canggih seperti layar LCD dan IC.

Lalu, bagaimana nasibnya di tahap berikutnya, yaitu pemurnian menjadi aluminium ingot? Situasinya tak lebih baik. Kontrol BUMN, dalam hal ini Inalum, anjlok dari 100% menjadi cuma sekitar 8,6% saja.

Artinya, rezim ini dianggap melepas 91,4% pengolahan kritis ini ke pihak asing dan swasta. Dari total kapasitas produksi 2,375 juta ton, hanya 275.000 ton yang dikelola Inalum. Sisanya, yang mencapai 2,1 juta ton, berada di luar tangan negara.

Di sisi lain, ada harapan yang disematkan pada kepemimpinan baru. Seperti yang diungkapkan penulis, semoga kondisi ini masih bisa diperbaiki oleh rezim @prabowo mendatang. Masa depan pengelolaan sumber daya alam strategis ini masih menunggu koreksi.

"Selama 10 tahun Rezim Jokowi telah melapaskan tambang dan pengolahan tambang Bauksit lebih 90 % ke Asing dan Oligarki.

Oleh : Muhammad Said Didu

1) Cadangan : 2,8 milyar ton, peringkat 4 dunia, 9,8 % cadangan dunia, ada di 4 Provinsi (Kalbar, Kalteng, Riau, dan Babel).

2)…"

Muhammad Said Didu (@msaid_didu) December 10, 2025

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar