Satu Dekade Bauksit Indonesia: Dari Bumi Nusantara ke Genggaman Asing

- Kamis, 11 Desember 2025 | 09:20 WIB
Satu Dekade Bauksit Indonesia: Dari Bumi Nusantara ke Genggaman Asing

Di bawah rezim Jokowi, kendali itu berpindah ke 17 perusahaan asing dan swasta. Kapasitas produksi mereka mencapai 27 juta ton, sementara BUMN cuma sanggup 1 juta ton. Kalau dihitung, porsi negara kini cuma sekitar 3,6%. Sebuah penurunan yang dramatis.

Sebagai catatan, SGA atau Smelter Grade Alumina adalah bauksit murni berkualitas tinggi, bahan baku utama untuk membuat aluminium. Kadarnya minimal 42%, diolah melalui Proses Bayer, dan tujuannya jelas: menambah nilai mineral kita di dalam negeri.

Sedangkan CGA (Chemical Grade Alumina) punya kemurnian lebih tinggi lagi, minimal 90%. Produk ini bukan langsung dari tambang, melainkan hasil olahan smelter. Penggunaannya beragam, mulai dari industri kimia, keramik, hingga komponen elektronik canggih seperti layar LCD dan IC.

Lalu, bagaimana nasibnya di tahap berikutnya, yaitu pemurnian menjadi aluminium ingot? Situasinya tak lebih baik. Kontrol BUMN, dalam hal ini Inalum, anjlok dari 100% menjadi cuma sekitar 8,6% saja.

Artinya, rezim ini dianggap melepas 91,4% pengolahan kritis ini ke pihak asing dan swasta. Dari total kapasitas produksi 2,375 juta ton, hanya 275.000 ton yang dikelola Inalum. Sisanya, yang mencapai 2,1 juta ton, berada di luar tangan negara.

Di sisi lain, ada harapan yang disematkan pada kepemimpinan baru. Seperti yang diungkapkan penulis, semoga kondisi ini masih bisa diperbaiki oleh rezim @prabowo mendatang. Masa depan pengelolaan sumber daya alam strategis ini masih menunggu koreksi.


Halaman:

Komentar