Jakarta - Arus mudik Lebaran tahun ini ternyata tak cuma soal antrean panjang dan kemacetan. Polri, melalui Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, mengungkap mereka membawa sejumlah teknologi canggih ke lapangan. Salah satu andalannya? Drone. Teknologi terbang ini bukan untuk foto-foto biasa, melainkan jadi mata di langit yang membantu menyiapkan strategi rekayasa lalu lintas saat kemacetan tak terhindarkan.
Menurut Dedi, teknologi yang diusung sekarang memungkinkan pemantauan kondisi jalan secara real time. Hasilnya, proses pengambilan keputusan untuk mengatur arus kendaraan jadi lebih cepat dan tepat. "Kalau menurut saya tahun ini jauh lebih siap," ujarnya.
Ia melanjutkan, "Selain teknologi Command Center mobile yang dilengkapi drone, untuk penindakan lalu lintas secara elektronik kita juga menggunakan drone ETLE." Pernyataan itu disampaikannya pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Rupanya, drone punya peran sentral dalam sistem pemantauan mudik tahun ini. Ada dua jenis yang dioperasikan. Pertama, drone yang terhubung langsung dengan Command Center mobile. Fungsinya sederhana tapi krusial: menjangkau titik-titik yang luput dari pantauan kamera CCTV biasa.
Dengan bantuan drone itu, petugas di lapangan bisa mendapat gambaran situasi yang lebih utuh. Analisis data lalu lintas pun bisa dilakukan dengan akurasi lebih tinggi. "Dari situ kita bisa melakukan analisis data untuk mengambil keputusan-keputusan yang diperlukan," jelas Dedi.
Namun begitu, pemantauan udara bukan satu-satunya cerita. Sistem pengawasan arus mudik 2026 ini juga ditopang oleh analisis berbasis kecerdasan buatan atau AI. Teknologi ini memungkinkan analisis data dan pemaknaan situasi lalu lintas berjalan secara real time di sepanjang jalur mudik. Semua terintegrasi langsung dengan command center yang tersebar dari Jawa, Sumatra, Bali, hingga jalur-jalur utama lainnya di Indonesia.
Dengan sistem terpusat ini, perkembangan situasi di jalan bisa dipantau dengan cepat. Sistemnya juga dilengkapi teknologi traffic counting untuk menghitung jumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan utama. Data inilah yang nantinya jadi bahan pertimbangan petugas untuk menerapkan rekayasa lalu lintas, seperti contraflow atau sistem satu arah, saat volume kendaraan melonjak drastis.
Artikel Terkait
Putri Kusuma Wardani Amankan Tiket Final Swiss Open 2026
Komisaris Tinggi HAM PBB Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Bupati Bone Dorong Percepatan Program Perkebunan 2026, Fokus pada Hilirisasi Tebu
Macet Ekstrem Gilimanuk, Pemudik Diturunkan Paksa di Tengah Jalan