Megawati: Bencana Sumatera adalah Peringatan Sejarah, Bukan Sekadar Musibah

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:30 WIB
Megawati: Bencana Sumatera adalah Peringatan Sejarah, Bukan Sekadar Musibah

Kondisi alam kita lagi enggak baik-baik saja. Itu yang disampaikan Megawati Soekarnoputri. Kerusakannya makin kerasa tiap tahun, dampaknya nyata banget.

Nah, menurut Ketua Umum PDIP itu, banjir dan longsor yang baru aja melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, sama Aceh itu nggak bisa dipisahin dari kerusakan tadi. Bagi dia, ini lebih dari sekadar musibah biasa.

“Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah,” ucap Megawati di Rakernas I PDIP Tahun 2026, Jakarta, Sabtu lalu.

“Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik, apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif.”

Kalimatnya tegas, dan pesannya jelas: kita lagi di ujung tanduk.

Di sisi lain, Megawati melihat ada satu kelompok yang paling resah dengan keadaan ini: anak muda. Mereka yang hidup dalam ketidakpastian, memandang hari esok dengan cemas. Banyak dari mereka merasa generasi sebelumnya gagal merawat warisan yang paling berharga, yaitu bumi. Masa depan? Bikin deg-degan.

“Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini,” paparnya.

Sebenarnya, peringatan dari para ilmuwan udah lama bertebaran. Megawati menyebut bumi sedang berada di fase kritis, sebuah titik balik peradaban yang menentukan. Lalu, mau bagaimana?

“Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?” tantangnya.

Menurut analisisnya, bencana di Sumatera itu ulah manusia. Titik. Bahkan, kerusakan itu didukung oleh kebijakan yang salah arah. Kawasan hutan penyangga kehidupan, yang mestinya berfungsi seperti spons, malah berubah jadi ladang eksploitasi. Hutan alam dibabat, diganti tanaman seragam yang akarnya dangkal dan rapuh.

“Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Megawati.

Dan kerusakan ini, lanjutnya, dilembagakan oleh aturan.

“Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem. Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban.”

Di akhir pidatonya, Megawati mengingatkan pesan sang ayah, Bung Karno. Pesan yang sederhana tapi dalem banget maknanya, dan sayangnya, terbukti tragis sekarang.

“Bung Karno telah mengingatkan kita sejak awal Republik berdiri. Tahun 1946, beliau berkata dengan sangat sederhana namun mendalam, ‘Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air’. Hari ini, kebenaran itu terbukti secara tragis,” tandas Megawati.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar