Reza Pahlavi Serukan Perebutan Kota, Gelombang Demonstrasi Iran Kian Menggila

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:54 WIB
Reza Pahlavi Serukan Perebutan Kota, Gelombang Demonstrasi Iran Kian Menggila

Gelombang demonstrasi masih terus mengguncang Iran. Pada Sabtu (10/1), aksi protes yang sudah berlangsung dua pekan ini tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bahkan, ada seruan yang lebih keras dari luar negeri.

Reza Pahlavi, sang putra mahkota terakhir dari era Dinasti Pahlavi yang kini hidup di pengasingan di AS, mendesak para demonstran untuk melangkah lebih jauh. Ia mendorong mereka tidak sekadar memenuhi jalanan, tapi bersiap untuk merebut kota-kota besar.

“Tujuan kami bukan cuma menguasai jalanan,” ujarnya, seperti dilaporkan AFP.

“Tujuan kami adalah bersiap merebut dan menguasai pusat-pusat kota. Saya akan kembali ke tanah air saya, dan saya percaya waktunya sudah dekat.”

Di dalam negeri, situasinya tetap tegang. Jalan-jalan utama di Teheran masih dipenuhi massa sejak Jumat kemarin. Suara-suara sumbang bahkan terdengar, dengan teriakan “Mati Khamenei” mewarnai aksi. Tidak hanya di ibu kota, kota-kota lain seperti Mashhad, Tabriz, dan Hamedan juga bergolak.

Yang menarik perhatian di Hamedan, beberapa demonstran mulai mengibarkan bendera era Dinasti Pahlavi simbol rezim yang digulingkan oleh Revolusi Republik Islam di tahun 1979. Sebuah gambaran yang jelas tentang betapa dalamnya kekecewaan yang melanda.

Pemicu semua ini, seperti yang banyak dirasakan di lapangan, adalah beban hidup yang kian berat. Nilai mata uang rial yang merosot, krisis ekonomi, dan biaya hidup yang melambung tinggi menjadi bensin yang menyulut kemarahan warga.

Namun begitu, pemerintah punya pandangan lain. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dengan tegas menuding bahwa aksi-aksi ini telah ditunggangi oleh Amerika Serikat. Upaya meredam situasi pun dilakukan dengan cara yang drastis: memutus akses internet dan jaringan telepon di sejumlah wilayah.

Langkah itu, sayangnya, tidak serta-merta menghentikan kekerasan. Menurut laporan sejumlah LSM pemantau HAM, puluhan demonstran dilaporkan tewas dalam dua pekan terakhir ini. Suasana di Iran, untuk saat ini, masih jauh dari kata damai.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar