Di SRMP 13 Kupang, suasananya berbeda. Felipina Agustina Kale, sang kepala sekolah, punya pandangan yang jelas tentang program Sekolah Rakyat. Baginya, ini bukan sekadar proyek pendidikan biasa. Ini adalah wujud nyata keadilan sosial, sebuah langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan yang sudah turun-temurun.
“Menurut saya inilah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya dengan tegas.
“Program ini sangat bagus. Siapa pun pemimpinnya, siapa pun presidennya, ini program yang harus terus dijalankan.”
Felipina menekankan, tujuan Sekolah Rakyat jauh melampaui angka-angka rapor. Fokusnya adalah membangun karakter anak-anak dari keluarga prasejahtera. Mereka datang ke sini seringkali dengan beban berat di pundak. Bayangkan, latar belakang kemiskinan tak hanya memengaruhi kondisi ekonomi, tapi juga mental mereka.
“Sejak pertama datang ke sekolah lima bulan lalu, kita tahu bahwa perasaan minder, malu melekat pada anak,” kenang Felipina.
Kondisi itulah yang jadi tantangan terbesar bagi para guru dan pengasuh di sini. Makanya, pendekatannya harus holistik. Mereka mengadopsi sistem sekolah berasrama, di mana proses belajar mengajar berjalan sinergi antara kelas dan kehidupan asrama.
“Di sekolah dengan di asrama kami itu bersinergi,” jelasnya.
“Para wali asuh, wali asrama menempatkan diri sebagai orang tua pengganti.”
Rutinitasnya ketat. Semua siswa, tanpa kecuali, wajib bangun pukul empat pagi. Meski hanya ada satu siswa muslim, haknya untuk beribadah tetap dihormati.
Artikel Terkait
Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI, Fokus pada Tugas Kebangsaan
Prabowo Dorong Pencak Silat Menuju Olimpiade, Tekankan Pentingnya Jaga Kemurnian
Bupati Tulungagung Ditahan KPK, Modus Pemerasan Kembali Mencuat
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Tanpa Kesepakatan