Video itu beredar cepat di media sosial. Memperlihatkan seorang pria mendekati sopir bajaj yang sedang mangkal di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tak lama, sopir itu mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya. Adegan singkat itu memantik kemarahan banyak netizen.
“Tadi bukannya udah dikasih?” tanya suara dari dalam bajaj, merekam kejadian itu.
“Tadi kan udah,” jawab sopirnya, terdengar pasrah.
“Di Tanah Abang gitu ya bang? Dikasih atau palak?” tanya penumpang lagi.
“Ya dipalak,” ucap sang sopir, mengakhiri percakapan.
Menanggapi viralnya video tersebut, Gubernur Jakarta Pramono Anung langsung bersikap tegas. Dia mengaku sudah melihat rekaman itu dan tak akan berkompromi sedikitpun. “Kemarin saya sudah melihat videonya dan saya sudah meminta kepada Satpol PP, kepada Kepala Dinas untuk mengambil tindakan tegas terhadap hal itu,” tegas Pramono saat berbincang dengan awak media di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).
Nadanya keras. “Tidak ada kompromi lagi. Jadi premanisme di Jakarta, saya sebagai gubernur, saya tidak ragu-ragu untuk itu,” tambahnya. Pernyataan itu sekaligus jadi peringatan bagi siapa saja yang masih nekad menjalankan aksi serupa.
Menurut informasi yang beredar, kejadian pemalakan ini terjadi pada Jumat (10/4). Modusnya klasik: uang setoran. Seorang sopir bahkan mengaku harus merogoh kocek Rp 100 ribu per hari. Bayangkan, berapa banyak penghasilannya yang terkuras. Kalau menolak? Ancaman selalu mengintai, mulai dari teriakan ‘maling’ hingga kekerasan fisik. Situasi yang bikin gerah.
Di sisi lain, pihak kepolisian pun mulai bergerak. Kapolsek Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, menyebut penyelidikan sudah dilakukan. Mereka berusaha melacak pelaku di video viral itu. “Saat ini anggota masih melakukan lidik untuk menemukan pelaku yang diduga melakukan pemalakan,” jelas Dhimas, Minggu (12/4).
Tak hanya sendiri, Polisi juga menggandeng sejumlah pihak. Ada koordinasi dengan Kecamatan, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan. Rencananya, akan digelar patroli bersama di titik-titik yang rawan pungutan liar. Upaya konkret untuk meredam praktik yang sudah mengganggu ketenteraman ini.
Soal premanisme di ibu kota, memang seperti api dalam sekam. Sekali ada pemicu, langsung menyala. Respons cepat dari pemimpin dan penegak hukum setidaknya memberi sedikit harapan. Warga, terutama para sopir bajaj, tentu berharap tindakan tegas ini bukan sekadar wacana di depan kamera.
Artikel Terkait
Relawan Indonesia Herman Budianto Ungkap Penyiksaan Brutal Tentara Israel saat Bajak Kapal Bantuan Gaza
Presiden Prabowo Tiba di Istana Elysee Paris, Disambut Menteri Pertahanan Prancis
Politisi Golkar Nilai Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Petugas Lebih Disiplin
Macron Puji Ketegasan Prabowo Perjuangkan Perdamaian dan Kedaulatan Palestina