Di sisi lain, menyamakan posisinya dengan para penguasa dunia itu adalah sebuah kekeliruan. Ayatullah Khamenei bukan sekadar kepala negara biasa. Ia adalah seorang marja‘ taklid, figur rujukan keagamaan bagi jutaan penganut Syiah di berbagai negara. Ia adalah simbol dari sebuah sistem politik-keagamaan yang justru dibangun di atas prinsip keteguhan, bukan pelarian. Dalam sistem ini, kabur bukanlah strategi; itu adalah pengakuan akan kehilangan legitimasi secara total.
Para pemimpin yang disebutkan tadi, umumnya bertahan karena dukungan eksternal, kekuatan ekonomi, atau proteksi asing. Begitu sandaran itu hilang, mereka pun tumbang. Fondasi Khamenei berbeda sama sekali ia berdiri di atas struktur ideologis, institusional, dan jaringan sosial yang dalam dan kompleks.
Nah, di titik inilah kita bisa bertanya: sebenarnya siapa yang sedang panik di balik narasi ini? Kabar “Khamenei akan kabur” lebih mirip cermin dari kegagalan imajinasi politik pihak-pihak tertentu. Ketika segala cara sudah dicoba sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, perang informasi, bahkan ancaman invasi dan hasilnya tak kunjung memuaskan, yang tersisa seringkali hanya fantasi. Fantasi tentang keruntuhan yang diulang-ulang, dengan harapan bisa jadi kenyataan lewat pengulangan kata-kata.
(Oleh: Ismail Amin)
Artikel Terkait
Gen Halal Championship 2025 Cetak 45 Finalis, Bukti Gaya Hidup Halal Kian Digandrungi Pelajar
Parlemen Iran Ancam AS dan Israel Jadi Sasaran Balasan Militer
Gotong Royong TNI dan Warga Percepat Pembangunan Jembatan di Sumatera
Gen Halal Championship 2025: Finalis Non-Muslim Buktikan Halal Jadi Standar Universal