Indonesia Bidik Jadi Mitra Kunci Rantai Pasok Semikonduktor dan AI

- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:45 WIB
Indonesia Bidik Jadi Mitra Kunci Rantai Pasok Semikonduktor dan AI

Jakarta – Posisi Indonesia di peta teknologi global sedang berubah. Tak mau lagi cuma jadi pengekspor bahan mentah, negeri ini kini mengincar peran yang jauh lebih strategis. Hal itu ditegaskan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, dalam sebuah konferensi penting di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).

Menurut Nezar, Indonesia berambisi menjadi mitra kunci dalam rantai pasok industri semikonduktor dan kecerdasan artifisial. “Kita nggak mau lagi cuma numpang lewat di pinggiran,” ujarnya dengan nada tegas. “Konferensi seperti ini penting banget. Visinya bukan cuma jual nikel atau bauksit mentah, tapi bikin kerangka kerja yang mengubah mineral itu jadi produk teknologi bernilai tinggi.”

Pernyataan itu disampaikannya di hadapan delegasi India-Indonesia Critical Mineral Conference. Nezar terlihat begitu bersemangat menggarisbawahi visi pemerintah: memanfaatkan kekayaan alam sebagai fondasi untuk membangun industri teknologi masa depan.

Di sisi lain, ia juga menyoroti kemajuan pesat India. Nezar mengaku kagum dengan transformasi yang terjadi di sana, terutama lewat program ‘Make in India’.

“Lihat saja, bagaimana Tata Group membangun pusat data AI. Atau inovasi jaringan yang bawa kekuatan superkomputer ke desktop biasa. Mereka nggak cuma ikut arus, tapi justru yang membangun masa depan itu sendiri,” ucap Nezar.

Lalu, apa langkah konkretnya? Pemerintah Indonesia menawarkan tiga agenda utama untuk kolaborasi dengan India.

Pertama, mengajak investasi untuk membangun fasilitas pemrosesan mineral di dalam negeri. Tujuannya jelas: agar bahan mentah kita bisa diolah jadi material berkualitas tinggi untuk industri elektronik.

Kedua, soal pengembangan SDM. Ini mencakup transfer pengetahuan dan pelatihan khusus untuk mencetak insinyur-insinyur semikonduktor yang mumpuni.

Agenda ketiga adalah membangun koridor ketahanan rantai pasok. Ide dasarnya sederhana: menghubungkan sumber daya alam Indonesia dengan kemampuan manufaktur India yang sudah maju. Dengan begitu, terciptalah rantai pasok yang lebih tangguh dan efisien untuk kedua belah pihak.

Nezar meyakini, kolaborasi semacam ini manfaatnya akan terasa jauh melampaui sekadar keuntungan ekonomi. Ini tentang memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global.

“Dengan langkah-langkah strategis ini,” pungkasnya, “Indonesia siap memainkan peran sentral. Bukan lagi sekadar pemasok, tapi bagian aktif dari inovasi dan pembangunan teknologi dunia.”

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar