Udara Bengkulu yang hangat kemarin menyambut kunjungan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, ke Rumah Pengasingan Bung Karno. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial belaka. Fadli punya misi jelas: menghidupkan kembali situs bersejarah itu agar lebih dari sekadar bangunan tua, melainkan ruang edukasi dan aktivitas budaya yang bernapas.
"Tempat-tempat ini menjadi saksi hidup perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,"
Begitu penegasan Fadli dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/2/2026). Ia ingin situs ini benar-benar "berbicara" kepada pengunjung, terutama anak muda.
Memang, jejak pengasingan para pendiri bangsa tersebar di penjuru Nusantara. Bung Karno sendiri diasingkan Belanda ke Bengkulu pada 1938, setelah sebelumnya menghabiskan tahun-tahun di Ende. Nasib serupa dialami rekan-rekan seperjuangannya. Bung Hatta dan Syahrir, contohnya, merasakan pengasingan dari Digul hingga ke Banda Naira. Syahrir bahkan kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi.
Namun begitu, masa-masa di Bengkulu bagi Sukarno bukan periode pasif. Di rumah itu, ia justru aktif. Berdiskusi dengan ulama, bertukar pikiran dengan budayawan, dan meresapi dinamika masyarakat setempat. Jejak aktivitas intelektualnya masih bisa dirasakan dari koleksi yang tersisa naskah sandiwara "Monte Carlo" hingga tumpukan bacaan yang dulu ia lahap.
Di sisi lain, posisi Bengkulu dalam narasi sejarah nasional memang istimewa. Di sinilah pula Bung Karno bertemu dengan Fatmawati, yang kelak menjahit Sang Saka Merah Putih. Rumah pengasingan itu kini berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional, dan menurut Fadli, potensinya masih luas. Bisa dikembangkan jadi pusat informasi, ruang belajar, atau sekadar destinasi rekreasi budaya yang menarik.
Artikel Terkait
Riset: Gubernur DKI Pramono Anung Pimpin Keterlibatan Publik di Media Sosial
Komuter Jakarta Beradaptasi Buka Puasa di Tengah Perjalanan
Wakil Ketua MPR: 116 Kasus Bunuh Diri Anak adalah Persoalan Kebangsaan
Imigrasi Cianjur Deportasi WN Arab Saudi karena Penyalahgunaan Izin Tinggal Investor