Menteri Fadli Zon Dorong Revitalisasi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:45 WIB
Menteri Fadli Zon Dorong Revitalisasi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Udara Bengkulu yang hangat kemarin menyambut kunjungan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, ke Rumah Pengasingan Bung Karno. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial belaka. Fadli punya misi jelas: menghidupkan kembali situs bersejarah itu agar lebih dari sekadar bangunan tua, melainkan ruang edukasi dan aktivitas budaya yang bernapas.

"Tempat-tempat ini menjadi saksi hidup perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,"

Begitu penegasan Fadli dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/2/2026). Ia ingin situs ini benar-benar "berbicara" kepada pengunjung, terutama anak muda.

Memang, jejak pengasingan para pendiri bangsa tersebar di penjuru Nusantara. Bung Karno sendiri diasingkan Belanda ke Bengkulu pada 1938, setelah sebelumnya menghabiskan tahun-tahun di Ende. Nasib serupa dialami rekan-rekan seperjuangannya. Bung Hatta dan Syahrir, contohnya, merasakan pengasingan dari Digul hingga ke Banda Naira. Syahrir bahkan kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi.

Namun begitu, masa-masa di Bengkulu bagi Sukarno bukan periode pasif. Di rumah itu, ia justru aktif. Berdiskusi dengan ulama, bertukar pikiran dengan budayawan, dan meresapi dinamika masyarakat setempat. Jejak aktivitas intelektualnya masih bisa dirasakan dari koleksi yang tersisa naskah sandiwara "Monte Carlo" hingga tumpukan bacaan yang dulu ia lahap.

Di sisi lain, posisi Bengkulu dalam narasi sejarah nasional memang istimewa. Di sinilah pula Bung Karno bertemu dengan Fatmawati, yang kelak menjahit Sang Saka Merah Putih. Rumah pengasingan itu kini berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional, dan menurut Fadli, potensinya masih luas. Bisa dikembangkan jadi pusat informasi, ruang belajar, atau sekadar destinasi rekreasi budaya yang menarik.

"Kita berharap semakin banyak generasi muda yang datang dan belajar dari tempat ini,"

ujarnya lagi. Ia melihat situs yang sudah ditata dengan baik ini perlu terus diaktifkan. Caranya? Dengan menghadirkan beragam kegiatan.

Fadli membayangkan ruangan-ruangan itu diisi dengan kegiatan yang relevan. Pentas seni, baca puisi, diskusi budaya, atau sekadar jadi tempat nongkrong sambil menikmati kopi khas Bengkulu. Dengan sentuhan seperti itu, daya tariknya bagi kaum muda dan wisatawan pasti akan bertambah. Ia ingin situs ini hidup, bukan membisu.

Harapannya, tempat ini tak cuma dikenang, tapi benar-benar berfungsi sebagai ruang edukatif yang menginspirasi. Agar semangat perjuangan para founding fathers bisa dipahami dan diteruskan dalam konteks kekinian.

Dalam kunjungan itu, Fadli tidak sendirian. Ia didampingi sejumlah pejabat seperti Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Rachmanda Primayuda, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Iskandar, bersama jajaran pemda setempat. Mereka bersama-sama melihat peluang agar sejarah tak berhenti menjadi cerita, tapi jadi pengalaman yang hidup.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar