“Akibat lumpur dan airnya juga masih banyak,”
kata Riska, seorang pengguna jalan, pada Jumat lalu. Keluhannya mewakili banyak warga lainnya.
Bagi mereka yang tinggal di sini, kejadian ini seperti rekaman yang diputar ulang. Setiap hujan deras mengguyur kawasan pegunungan, banjir luapan hampir pasti menyusul. Menurut warga, akar masalahnya ada pada kerusakan parah di sejumlah sungai. Sungai-sungai itu sudah tak lagi sama.
Ambil contoh daerah aliran Sungai Krueng Meureudu. Sebagian besar dilaporkan mengalami pendangkalan yang serius. Bantalan sungainya pun rusak. Dalam kondisi seperti itu, sungai kehilangan kemampuannya untuk menampung air hujan. Debit air yang besar langsung meluap dengan mudah, membanjiri permukiman dan jalan.
Harapan warga sekarang cuma satu: pemerintah segera turun tangan. Normalisasi sungai dan pembersihan drainase mendesak untuk dilakukan. Mereka lelah dengan banjir yang berulang. Mereka hanya ingin akses jalan normal kembali dan tak perlu was-was setiap kali mendung menggumpal di langit.
Artikel Terkait
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir
Jumlah Pengungsi di Tiga Provinsi Sumatera Menyusut, Sumatera Barat Nol Kasus
PSG Hadapi Chelsea di Parc des Princes, Babak 16 Besar Liga Champions Dimulai