Prabowo Bercandai PKB Harus Diawasi, Cak Imin Santai: Biasa, Cuma Gurauan

- Kamis, 08 Januari 2026 | 21:48 WIB
Prabowo Bercandai PKB Harus Diawasi, Cak Imin Santai: Biasa, Cuma Gurauan

Di sebuah acara di Hambalang, Jawa Barat, Selasa lalu, suasana rapat terasa cair oleh gelak tawa. Presiden Prabowo Subianto, di hadapan para menteri Kabinet Merah Putih, tiba-tiba melontarkan canda politik yang cukup menggelitik. Ia menyinggung soal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menurutnya "harus diawasi terus".

Pernyataan itu tentu saja langsung memancing tawa hadirin. Namun begitu, tak sedikit yang penasaran, apakah ada pesan serius di balik canda tersebut?

Prasetyo Hadi, sang Menteri Sekretaris Negara, angkat bicara dua hari kemudian. Menurutnya, hal semacam itu sudah biasa. Prabowo memang kerap menyelipkan humor untuk mencairkan suasana dalam berbagai pertemuan.

"Enggak ada itu, ya biasalah kan itu apa ya, suasana dalam sebuah pertemuan itu kan pasti ada titik-titik tertentu yang kita... semacam me-refresh atau apa namanya. Ice breaking. Boleh, bisa disebut ice breaking juga bisa gitu,"

kata Prasetyo di Istana Kepresidenan, Kamis (8/1).

Di sisi lain, ia menegaskan dengan gamblang bahwa koalisi pemerintah tetap solid. Soliditas itu, klaimnya, berlaku untuk semua partai pendukung, tak peduli mereka punya kursi di parlemen atau tidak.

"Kita kompak ya, kita solid ya. Kan di situ toh juga tidak sekadar bicara partai-partai yang ada di parlemen kan. Termasuk yang tidak punya kursi di parlemen kan juga bagian dari koalisi,"

tambahnya.

Bagaimana tanggapan pihak yang jadi bahan candaan? Cak Imin, ketua umum PKB, justru terlihat santai. Ia menganggapnya sekadar gurauan belaka.

“Enggak, bercanda, bercanda,”

ujarnya di lokasi yang sama, Selasa itu.

“Sering begitu, becanda begitu lah. Gojlokan begitu,”

katanya sambil tertawa. Jadi, semua berakhir dengan tawa. Canda Prabowo itu, setidaknya untuk saat ini, tak lebih dari sekadar ice breaking di tengah rapat yang mungkin serius. Tapi ya, di politik, kadang gurauan pun punya seribu tafsir.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar