Wall Street mencatatkan hari yang cukup baik pada Senin lalu. Indeks-indeks utama bergerak naik, mengakhiri sesi dengan keuntungan solid. Ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan soal penundaan serangan militer terhadap target energi Iran. Trump juga bilang sudah ada pembicaraan produktif dengan Teheran.
Namun begitu, klaim Trump langsung dibantah keras dari pihak Iran. Melalui Kantor Berita Fars, sebuah sumber menyatakan tegas bahwa tidak ada komunikasi sama sekali dengan Amerika, baik langsung maupun lewat perantara.
“Tidak ada kontak, titik,” begitu kira-kira penegasan dari sumber Iran itu.
Di sisi lain, situasi di lapangan justru tampak memanas. Militer Israel dilaporkan sedang melakukan serangan terhadap Iran, menambah kerumitan narasi yang beredar.
Nah, pasar tampaknya lebih memilih untuk merespons sinyal dari Trump. Dow Jones melonjak 758 poin, hampir 1.7%. S&P 500 dan Nasdaq juga ikut naik, masing-masing sekitar 1.5% dan 1.8%. Sentimen ini langsung menular ke pasar global. Indeks Eropa STOXX 600 menguat, logam mulia meroket, sementara harga minyak justru terjun bebas. Semua itu jadi tanda jelas bahwa selera risiko investor kembali menguat.
Padahal, sebelumnya suasana sangat muram. Ancaman serangan balasan antara Israel dan Iran sempat membuat semua orang waspada.
Chris Larkin, seorang analis di E"TRADE dari Morgan Stanley, memberi catatan hati-hati. Menurutnya, reli pasar ini digerakkan oleh kabar yang berpotensi positif dari Timur Tengah. Tapi dia ingatkan, untuk bisa bertahan, rally ini butuh perkembangan geopolitik yang nyata dan berkelanjutan. Bukan sekadar pernyataan.
Efeknya juga terasa di pasar uang. Taruhan investor atas kenaikan suku bunga The Fed mereda drastis. Peluang suku bunga naik di Desember sekarang cuma sekitar 24%, jauh turun dari angka di atas 50% sebelumnya. Ini perubahan besar dari sentimen pekan lalu, ketika The Fed bersikap hawkish dan memproyeksikan inflasi lebih tinggi, sehingga pasar hampir menyerah harapan akan pemangkasan suku bunga tahun ini.
Sektor energi jadi korban. Harga minyak mentah anjlok lebih dari 7%. Saham-saham besar seperti Exxon Mobil dan Chevron ikut terpuruk, membuat sektor energi jadi satu-satunya yang berwarna merah di tengah hijau merona.
Sebaliknya, saham-saham yang diuntungkan dari harga minyak rendah meroket. Maskapai penerbangan seperti American Airlines dan United Airlines naik lebih dari 4.5%. Yang lebih spektakuler, perusahaan kapal pesiar seperti Carnival dan Norwegian Cruise Line melesat lebih dari 5.5%. Investor seolah berpesta, setidaknya untuk satu hari ini, sambil menunggu perkembangan selanjutnya dari kawasan yang tak pernah benar-benar tenang itu.
Artikel Terkait
Irfan Setiaputra Ditunjuk sebagai Presiden Komisaris Anabatic Technologies Gantikan Ignasius Jonan
Surya Hadiwinata Resmi Ditunjuk sebagai Direktur Utama MDTV Media Technologies Gantikan Lie Halim
OJK Dukung KEK Keuangan di Bali untuk Percepat Pendalaman Pasar Modal Nasional
Adhi Karya Rombak Jajaran Komisaris dan Direksi, Angkat Alexander Ruby Setyoadi sebagai Komisaris Baru