Tapi dia juga mengakui, "Sedih juga lihat bandara sebesar ini jarang ada pesawat."
Mereka terpaksa bawa bekal sendiri. Hampir semua kafe dan gerai makanan di dalam bandara sudah tutup. Minimarket tunggal yang masih buka jadi saksi bisu sepinya aktivitas komersial.
Di sisi lain, pengelola bandara tampaknya mengambil sikap terbuka. Mereka tak melarang warga datang, asal tetap pada koridor yang ditentukan.
Kata BIJB
Executive General Manager BIJB, Nuril Huda Mahmudan, menjelaskan aturannya. Warga dipersilakan berkunjung ke area publik seperti halaman parkir dan lobi.
"Kita tidak melarang warga untuk berwisata atau berkunjung ke bandara selama sesuai aturan. Boleh di wilayah yang diperkenankan seperti parkir dan lobi karena itu public area," kata Nuril.
"Tapi kalau masuk ke terminal dan ruang tunggu, harus izin ke petugas bandara," tambahnya.
Jadi, itulah potret Kertajati sekarang. Bandara yang seharusnya sibuk oleh lalu-lalang penumpang, justru menemukan peran barunya sebagai taman rekreasi dadakan. Sebuah ruang alternatif bagi warga yang haus tempat bersantai, meski di baliknya terselip ironi tentang sebuah infrastruktur megah yang masih mencari napasnya.
Artikel Terkait
Minat Generasi Muda dan Dukungan Kebijakan Dorong Tren Hunian Hijau di Perkotaan
Ahli IPB: Limbah Cair Sawit Bisa Kurangi Ketergantungan Impor Pupuk
Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI, Fokus pada Tugas Kebangsaan
Prabowo Dorong Pencak Silat Menuju Olimpiade, Tekankan Pentingnya Jaga Kemurnian