Masyarakat Indonesia, kata Jamiluddin, punya dimensi lain. Ada yang mencari kebahagiaan akhirat, ada pula yang mengejar keseimbangan antara dunia dan akhirat. Bagi kedua kelompok ini, tolok ukur kebahagiaan jelas berbeda. Mereka tak akan serta-merta mengaitkan rasa bahagia dengan kondisi finansial semata.
“Namun rakyat suatu negara, termasuk Indonesia, ada juga yang mencari tempat kebagiaan di akhirat dan keseimbangan dunia akhirat. Dua kelompok ini tidak akan mengukur kebagiaan semata dari kesejahteraan,” jelasnya.
Bagi yang memprioritaskan akhirat, keimanan adalah sumber kebahagiaan utama. Jadi meski secara ekonomi belum mapan, perasaan bahagia itu tetaplah nyata dan tulus. Hal serupa berlaku untuk kelompok kedua. Ketika harapan duniawi belum sepenuhnya terpenuhi, keyakinan akan kehidupan setelah mati memberi mereka ketenangan dan kepuasan batin.
Kesimpulannya, menurut Jamiluddin, cukup tegas.
“Karena itu, kebahagiaan rakyat Indonesia bukan karena kesejahteraan tapi lebih bersumber dari keimanan,” pungkasnya.
Jadi, meski riset global itu memberi kita gambaran yang membanggakan, maknanya mungkin lebih dalam dari sekadar angka. Bisa jadi, di balik senyum dan klaim kebahagiaan itu, tersimpan sebuah kekuatan spiritual yang justru menjadi penopang utama. Sebuah perspektif yang mungkin sering terlupakan dalam debat tentang indeks kebahagiaan dan kemakmuran sebuah bangsa.
Artikel Terkait
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?