Sebuah riset global baru-baru ini menempatkan Indonesia di puncak daftar negara paling bahagia di dunia. Hasil studi kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup itu mengundang beragam tafsir. Yang menarik, respons Presiden Prabowo Subianto justru penuh haru.
Dalam pidatonya di acara Natal Nasional 2025 di Tenis Indoor Senayan, ia menyampaikan kekagumannya.
Namun begitu, apakah kebahagiaan itu benar-benar bisa disamakan dengan tingkat kesejahteraan? Menurut pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, Presiden tak perlu larut dalam asumsi itu. Baginya, respons haru itu wajar, tapi jangan sampai terjebak pada logika yang terlalu sederhana.
“Kalau negara tersebut sejahtera atau makmur, maka rakyatnya diasumsikan akan bahagia. Sebaliknya, di negara berkembang dan miskin, maka diasumsikan akan sedikit rakyatnya yang bahagia?” tanya Jamiluddin kepada wartawan, Kamis lalu.
Pertanyaannya memang menggelitik. Asumsi semacam itu, lanjutnya, baru akan relevan jika kita memandang kebahagiaan semata dari kacamata duniawi. Di situ, ukurannya jelas: ekonomi, materi, dan kesejahteraan fisik.
Tapi realitanya tidak sesederhana itu.
Artikel Terkait
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Paria Barru, Diduga Korban Tenggelam Saat Cari Kerang
Kisah Prajurit Ngatijan dan Ilmu Kebal yang Selamatkan Rekan dari Tembakan Belanda di Papua
Polri dan Kemenhaj Bentuk Satgas Khusus untuk Berantas Penipuan Haji dan Umrah
Ledakan Tabung Gas di Pabrik Gizi Ngawi Lukai Satu Pekerja