Grup True Crime di Medsos Rekrut 70 Anak Indonesia untuk Ideologi Ekstrem

- Kamis, 08 Januari 2026 | 08:42 WIB
Grup True Crime di Medsos Rekrut 70 Anak Indonesia untuk Ideologi Ekstrem

Selain di Jawa Tengah, rencana aksi serupa juga berhasil digagalkan di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Ini menunjukkan jaringan pengaruhnya yang cukup luas.

Propaganda yang Dikemas Seperti Konten Hiburan

Lantas, bagaimana cara mereka memikat anak-anak? Kuncinya ada pada kemasan propaganda. Materi-materi berat seperti white supremacy dan neo-nazi diolah menjadi konten yang ringan dan menarik: video pendek yang dramatis, animasi keren, meme yang lucu tapi sarat pesan, hingga musik dengan lirik provokatif.

"Adapun perkembangan propaganda melalui media sosial, baik dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik yang dikemas secara menarik, dapat membangkitkan semangat untuk menjadikan ideologi dan paham ekstremisme sebagai inspirasi," papar Mayndra.

Strategi ini sangat efektif menjangkau anak-anak yang memang sedang dalam fase labil, mencari jati diri, dan gemar menghabiskan waktu di dunia digital.

Mengenali Tanda-tandanya

Orang tua dan guru perlu waspada. Mayndra memaparkan sejumlah ciri anak yang mungkin telah terpapar. Pertama, perhatikan simbol-simbol aneh di barang miliknya, seperti logo white supremacy atau neo-nazi di gawai, buku, atau pakaian. Bisa juga ada gambar tokoh pelaku kekerasan yang diidolakan.

"Yang pertama, salah satunya ditemukan gambar simbol nama pelaku kekerasan seperti yang tadi telah diuraikan di depan. Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya," ucap Mayndra.

Ciri kedua adalah perubahan perilaku sosial. Anak menjadi tertutup, menarik diri dari pergaulan, dan lebih banyak menyendiri di kamar. Grup online itu memberikan rasa nyaman dan penerimaan yang mungkin tidak ia dapat di dunia nyata.

"Kemudian cenderung menarik diri dari pergaulan karena tadi seperti disampaikan bahwa komunitas ini cukup membuat mereka nyaman, sehingga anak-anak lebih suka menyendiri dan untuk berlama-lama mengakses komunitas True Crime Community ini di dalam kamarnya, biasanya gitu," jelas Mayndra.

Mereka juga kerap menirukan idola dari dunia ekstrem tersebut. Mayndra mengambil contoh pelaku pengeboman SMAN 72. Dari gaya berpakaian, senjata replika, hingga pola aksinya, merupakan "cosplay" atau peniruan dari pelaku-pelaku kekerasan di negara lain.

"Kemudian suka menirukan tokoh atau idola. Nah ini sudah terbukti, kita memiliki insiden, pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari postingannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay yang dimainkan oleh pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya," ucapnya.

Terakhir, perhatikan konten yang mereka konsumsi. Jika anak terlihat sering mengakses tayangan kekerasan atau konten sadis, itu bisa menjadi tanda bahaya yang serius.


Halaman:

Komentar