Bunyi "tong... tong..." dari tiang listrik di tengah malam yang sunyi pasti sudah tak asing lagi. Bagi sebagian orang, itu cuma gangguan suara. Tapi sebenarnya, ada maksud tersembunyi di balik ritual warga itu.
Anwar, seorang pria 44 tahun yang rutin ronda di Cikoko, Pancoran, bercerita panjang lebar soal hal ini ketika kami bertemu Sabtu lalu. Suara nyaring dari tiang besi yang dipukul pakai batu atau tongkat itu, katanya, sama sekali bukan iseng.
"Ya maknanya buat nandain jam," ujarnya.
Menurutnya, di kawasan itu banyak sekali pedagang. Tukang tempe, tahu, dan sayuran yang harus berangkat ke pasar jauh sebelum matahari terbit.
"Pedagang kayak tukang tempe, tahu, biar nggak kesiangan kan untuk berangkat ke pasar," jelas Anwar.
Caranya sederhana tapi efektif. Jam dua pagi? Tiang dipukul dua kali. Menjelang jam tiga, tiga kali pukulan. Begitu seterusnya, jadi penanda waktu bagi mereka yang tak punya jam weker.
Lalu bagaimana dengan pukulan di jam empat pagi?
"Bangunin orang salat Subuh," katanya.
Namun begitu, ada alasan lain yang lebih manusiawi. "Sekalian jaga-jaga. Takut yang jam 3 kita ketok (pedagang) belum bangun, kasihan kan dia udah nyetak tempe tapi kalau kesiangan nggak bisa kujual," tutur Anwar.
Jadi, di balik suara sederhana yang kerap kita dengar, ternyata ada sistem alarm komunitas yang telah berjalan lama. Sebuah kepedulian yang dibunyikan lewat besi, menjaga ritme hidup warga yang harus bangun saat kota masih tidur.
Artikel Terkait
Untuk pertama kalinya sejak 1957, India tanpa satu pun negara bagian yang diperintah partai komunis
Dinas SDA DKI Inventarisasi Ulang Seluruh Saluran Lama Antisipasi Jalan Amblas
Perayaan Waisak 2570 di Bundaran HI, Wagub Rano Karno Sebut Cahaya Kedamaian Jadi Simbol Toleransi Jakarta
Empat Pria Berhasil Dievakuasi dari Gua Banjir di Laos, Dua Masih Hilang