Caranya sederhana tapi efektif. Jam dua pagi? Tiang dipukul dua kali. Menjelang jam tiga, tiga kali pukulan. Begitu seterusnya, jadi penanda waktu bagi mereka yang tak punya jam weker.
Lalu bagaimana dengan pukulan di jam empat pagi?
"Bangunin orang salat Subuh," katanya.
Namun begitu, ada alasan lain yang lebih manusiawi. "Sekalian jaga-jaga. Takut yang jam 3 kita ketok (pedagang) belum bangun, kasihan kan dia udah nyetak tempe tapi kalau kesiangan nggak bisa kujual," tutur Anwar.
Jadi, di balik suara sederhana yang kerap kita dengar, ternyata ada sistem alarm komunitas yang telah berjalan lama. Sebuah kepedulian yang dibunyikan lewat besi, menjaga ritme hidup warga yang harus bangun saat kota masih tidur.
Artikel Terkait
Polisi Temukan Empat Pasang Pelat Nomor Berbeda dalam Mobil Pengemudi Ugal-ugalan di Gunung Sahari
Wamen Bima Arya: Sinkronisasi Global-Nasional-Lokal Kunci Capai Target Nol Emisi
Satgas Pangan Perketat Pengawasan Distribusi Jelang Idulfitri
Intelijen Korsel: Putri Kim Jong Un Diduga Kendalikan Operasional Badan Rudal Korut