Caranya sederhana tapi efektif. Jam dua pagi? Tiang dipukul dua kali. Menjelang jam tiga, tiga kali pukulan. Begitu seterusnya, jadi penanda waktu bagi mereka yang tak punya jam weker.
Lalu bagaimana dengan pukulan di jam empat pagi?
"Bangunin orang salat Subuh," katanya.
Namun begitu, ada alasan lain yang lebih manusiawi. "Sekalian jaga-jaga. Takut yang jam 3 kita ketok (pedagang) belum bangun, kasihan kan dia udah nyetak tempe tapi kalau kesiangan nggak bisa kujual," tutur Anwar.
Jadi, di balik suara sederhana yang kerap kita dengar, ternyata ada sistem alarm komunitas yang telah berjalan lama. Sebuah kepedulian yang dibunyikan lewat besi, menjaga ritme hidup warga yang harus bangun saat kota masih tidur.
Artikel Terkait
Langit 2026: Gerhana Matahari Tak Tampak, Gerhana Bulan Masih Berpeluang
Dua Pencuri Motor Tembaki Warga, Ditangkap Usai Buron ke Yogyakarta dan Cimahi
Drone Misterius di Perbatasan Korea: Klaim, Bantahan, dan Ancaman Diplomatik
KPK Beberkan Modus Korupsi Kuota Haji Tambahan, Mantan Menag Yaqut Ditahan