Menyikapi hal ini, pemerintah Iran mencoba meredam gejolak dengan bantuan tunjangan bulanan untuk semua warga. Diumumkan Minggu lalu, nilainya sekitar 3,5 persen dari rata-rata upah bulanan. Sebuah upaya, meski banyak yang meragukan efektivitasnya untuk benar-benar meringankan beban.
Di sisi lain, media lokal punya pembacaan yang berbeda-beda soal krisis ini. Harian reformis Arman Melli, misalnya, menulis bahwa otoritas sudah "mendengar suara para demonstran".
Namun begitu, nada yang sama sekali berbeda datang dari media konservatif macam Javan dan Kayhan. Mereka punya narasi sendiri: Amerika Serikat dan Israel-lah yang disebut-sebut berada di balik dukungan dana untuk para perusuh. Situasinya jadi rumit, dan untuk sekarang, yang paling jelas adalah saran Australia tadi: sebaiknya menjauh.
Artikel Terkait
Longsor di Kudus Seret Dua Kendaraan ke Jurang
Istri di Balik Badai Haji: Eny Retno, Perempuan yang 21 Tahun Hidup dalam Sunyi
Menteri Agama: Ketahanan Bangsa Berawal dari Keluarga yang Kokoh
Kardinal Suharyo Buka Perayaan Natal DKI dengan Cerita Gembala dan Dua Hewan