Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Wonosari, Gunungkidul, kini tinggal puing. Bangunan yang berdiri sejak 1984 itu sudah rata dengan tanah. Semua berawal dari sebuah janji renovasi yang menggoda, tapi akhirnya justru menghilang begitu saja bersama sang donatur misterius.
Rencana perombakan masjid sebenarnya sudah digulirkan warga sejak November lalu. Gayung bersambut, datanglah dua orang yang mengaku bisa membantu. Mereka adalah AS dari Gatak dan seorang pria berinisial H dari Ngawen. Menurut cerita warga, H inilah yang punya koneksi.
Dia bilang, ada yayasan di Tangerang yang bersedia mendanai penuh. Syaratnya cuma satu: masjid lama harus dirobohkan dulu. Dengan penuh harap, warga pun menuruti permintaan itu.
Tapi setelah bangunan rubuh, situasinya berbalik 180 derajat. Yayasan yang disebut-sebut itu sama sekali tak tahu menahu soal janji donasi. Bahkan tokoh yang namanya dicatut pun menggeleng. Lantas, siapa sebenarnya sosok H ini?
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mencoba melacak jejaknya.
"Info yang kami terima, awalnya beliau ini petani. Lalu dapat celah untuk mengkondisikan yayasan-yayasan donatur. Terakhir, katanya dia jadi kontraktor bangunan yang khusus menangani pembangunan masjid lewat donasi. Begitu kira-kira," jelas Budi, Rabu (7/1).
Dari rangkaian kejadian ini, warga mulai mencium sesuatu yang tak beres. Ada dugaan motif cari untung di balik janji manisnya.
"Dari yang kami baca, kemungkinan besar iya. Dia akan mengambil keuntungan dari pelaksanaan pembangunan," sambung Budi.
Memang, sejak awal H terlihat sangat detail. Dia sudah menghitung segala kebutuhan pekerjaan, seolah proyek ini benar-benar akan berjalan. Namun begitu masjid roboh, pria itu raib bak ditelan bumi. Telepon tidak diangkat, pesan WhatsApp dibiarkan menggantung.
Warga pun mengambil sikap. Daripada berlarut-larut mengejar bayangan, mereka memutuskan untuk mengikhlaskan dan bangkit sendiri.
"Kita rapat besar. Bismillah, dengan diberitakan ini, banyak yang simpati dan akhirnya membantu," ujar Budi.
Soal pelaporan? Warga sepakat tidak akan membawa H ke polisi. Tapi mereka menegaskan, jika pihak yang namanya dicatut mau mengambil langkah hukum, itu sepenuhnya hak mereka.
"Kalau kami sebagai korban, kami tidak akan melakukan proses hukum," kata Budi menegaskan.
Kini, di atas lahan yang kosong, semangat gotong royong warga justru menyala. Mereka pelan-pelan mengumpulkan dana swadaya dan bantuan yang mengalir setelah kabar ini tersiar. Kisahnya mungkin tentang tipu daya, tapi lebih dari itu, ini tentang keteguhan hati untuk bangun kembali dari nol.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah