Mereka memaksa mahasiswa berhadapan langsung dengan struktur klaim dan hubungan antar konsep. Di momen memilih "benar" atau "salah", yang diuji bukan cuma pengetahuan, tapi juga keberanian epistemik: apakah mereka sanggup melawan intuisi pribadi atau opini umum demi sebuah konsistensi rasional?
Di sinilah perbedaan Huitt antara berpikir kritis dan kreatif kembali relevan. Berpikir kreatif itu holistik dan intuitif, sementara berpikir kritis bersifat linear dan analitis. Nah, dunia AI yang berbasis model bahasa besar justru mengaburkan batas ini. Kreativitas disimulasikan lewat variasi statistik, sementara evaluasi kritis direduksi jadi sekadar skor kepercayaan. Kalau batas ini kabur di ruang kelas, mahasiswa bisa saja belajar bahwa yang penting itu menghasilkan jawaban yang "kedengarannya" meyakinkan, bukan yang logis dan koheren.
Tapi tantangan terbesarnya bukan cuma di ranah pengetahuan. Seperti yang sempat saya tulis dalam disertasi tentang etika komunikasi produksi pengetahuan (2025), dimensi etis dan epistemik itu tak terpisahkan. Pengetahuan tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia selalu dibangun oleh subjek yang punya tubuh, punya relasi, dan punya tanggung jawab.
Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial seperti kata Aristoteles berpikir juga terwujud dalam pengetahuan bersama dan tulisan kolaboratif. Berpikir kritis yang tercerabut dari akar eksistensialnya, seperti yang diingatkan Sartre, akan menghasilkan pengetahuan yang kering. Pengetahuan yang mudah dimanipulasi karena lepas dari konteks sosial-budaya yang spesifik.
Larson dkk. (2024) menegaskan lagi, di era GenAI ini, berpikir kritis menuntut kesediaan untuk terlibat, bukan sekadar kemampuan menganalisis. Kesediaan ini bersifat afektif sekaligus etis: berani mempertanyakan otoritas mesin, sadar akan bias dalam data, dan bertanggung jawab untuk tidak menyerahkan keputusan normatif pada sistem yang tak akan merasakan konsekuensinya.
Jadi, dengan segala kerendahan hati, mengembalikan marwah berpikir kritis hari ini berarti menyatukannya kembali dengan etika. Bukan dengan menolak AI secara membabi buta, tapi dengan menegaskan bahwa berpikir kritis adalah praktik manusiawi. Praktik yang melibatkan penilaian, komitmen, dan keberanian untuk bertindak meski tindakan itu tidak populer.
Di tengah kepungan mesin algoritmik, berpikir kritis bukan lagi sekadar keterampilan akademik. Ia menjadi bentuk perlawanan yang senyap dan berkelanjutan. Sebuah upaya untuk menjaga pengetahuan tetap hidup, bermakna, dan punya dampak nyata.
Pertanyaannya sekarang: beranikah para mahasiswa kita melangkah ke sana?
Artikel Terkait
Traktor Serbu Paris: Petani Prancis Bentrok dengan Kebijakan Perdagangan dan Wabah
Pertemuan Tertutup Jokowi dan Eggi Sudjana Berakhir dengan Pelukan
Gus Yaqut Ditahan KPK, Kuota Haji Jadi Titik Balik Karier
Gus Yaqut Resmi Tersangka KPK, Kuota Haji 2024 Diduga Disimpangi