Nah, kalau Rajab itu bulan mulia, maka merusak alam di dalamnya adalah ironi spiritual yang nyaris sempurna. Kita rajin berdoa minta ampun, tapi tangan masih ringan membuang sampah ke kali. Kita perbanyak istighfar, sambil menebang pohon tanpa pernah terpikir untuk menanam kembali. Kesalehan model begini, kalau mau disindir, adalah kesalehan yang tekun beribadah tapi enggan berpikir; khusyuk di sajadah, tapi lalai di ruang hidup bersama.
Almarhum Mahbub Djunaedi dulu terkenal dengan sindirannya yang tajam soal kesalehan yang kehilangan nalar. Kira-kira, kalau beliau masih hidup sekarang, mungkin akan berkata begini:
“Umat berdoa minta hujan, tapi hutan ditebang sampai Tuhan bingung mau menurunkan hujan di mana.”
Satire yang terdengar jenaka, tapi sebenarnya adalah kritik ekologis yang sangat pedas. Doa itu tak pernah salah. Yang bermasalah adalah perilaku kita yang justru memutus rantai rahmat itu sendiri.
Ironi ini menunjukkan satu hal: ada jurang lebar antara teologi yang kita peluk dengan praksis sosial sehari-hari. Agama sering dikurung jadi urusan langit belaka, sementara bumi dibiarkan merana. Padahal, dalam Islam, merusak alam bukan cuma pelanggaran etika lingkungan. Itu adalah kegagalan memahami makna menjadi khalifah. Rajab, kalau betul-betul dimuliakan, harusnya tak cuma memperhalus doa, tapi juga membenahi cara hidup kita. Agar kesalehan tidak melayang ke langit saja, sementara bumi di bawah jadi korban yang bisu.
Dalam perspektif modern, manusia disebut sebagai khalifah fil ardh pengelola, bukan pemilik mutlak. Konsep ini selaras dengan teori environmental stewardship dalam ekologi modern. Banyak ahli bilang, krisis yang kita hadapi sekarang ini bukanlah krisis sumber daya. Ini adalah krisis etika.
Di sinilah ecotheology punya peran. Teori ini menegaskan bahwa agama punya peran strategis untuk membangun kesadaran ekologis. Dalam konteks Islam, Rajab bisa jadi bulan refleksi yang tepat: sejauh mana ibadah kita selama ini berdampak pada kelestarian hidup?
Pada akhirnya, Rajab seharusnya membuat kita lebih lembut. Bukan cuma kepada Tuhan, tapi juga kepada bumi yang kita pijak. Sebab bumi ini, seperti kita, juga sedang lelah. Mungkin ia sedang menunggu, apakah kesalehan kita punya akar yang dalam, atau cuma daun-daun doa yang gugur tanpa arti.
Kalau Rajab sama sekali tak mengubah cara kita memperlakukan alam, jangan-jangan yang mulia cuma bulannya. Bukan perilaku kita.
Artikel Terkait
GIBRANS BLACK BRAIN: Dokter Tifa Bongkar Otak FUFUFAFA dengan Pisau Neurosains
Menimbun Barang Bukan Cuma Soal Malas, Ini Akar Psikologis dan Pandangan Islam
Standar Ganda Pendukung Gibran: Saat Meledek Dipuji, Dikomentari Ringan Langsung Heboh
Benang Merah Chromebook Nadiem dan Investasi Google di GOTO: Negara Rugi Dua Kali?