Standar Ganda Pendukung Gibran: Saat Meledek Dipuji, Dikomentari Ringan Langsung Heboh

- Jumat, 09 Januari 2026 | 06:00 WIB
Standar Ganda Pendukung Gibran: Saat Meledek Dipuji, Dikomentari Ringan Langsung Heboh

Gibran Diledek Pandji, Para Pendukungnya Malah Ngamuk

Semuanya berawal dari komentar sederhana Pandji. Dia cuma bilang Gibran terlihat ngantuk. Gak lebih dari itu. Tapi, reaksi yang muncul? Luar biasa heboh.

Para pendukung fanatik Gibran yang sering disebut "termul" langsung menyalahkan Pandji. Mereka menudingnya tidak beretika, tidak sopan, dan berbagai cap negatif lainnya. Padahal, kalimat yang dilontarkan Pandji terbilang biasa saja, jauh dari kata menghina.

Nah, ini yang menarik. Sikap mereka sekarang kontras banget dengan sikap dulu.

Ingat saat debat cawapres 2024? Saat itu, Gibran dengan gaya khasnya sering disebut "tengil" membuat komentar yang dianggap banyak kalangan melecehkan Prof. Mahfud MD, yang notabene lebih tua dan seorang guru besar. Reaksi para pendukungnya waktu itu justru bangga. Mereka memuji Gibran karena dianggap "pedas" dan "blak-blakan".

Jadi, standarnya gimana, sih? Saat Gibran yang meledek, itu dianggap keren. Tapi giliran dia yang dapat komentar ringan, langsung ribut. Kelihatan sekali ada standar ganda di sini.

Momen debat itu sendiri sampai sekarang masih jadi perbincangan. Gaya Gibran yang santai, bahkan bagi sebagian orang terkesan kurang ajar, saat berhadapan dengan Mahfud MD terekam jelas. Dan seperti yang kita lihat, rekaman itu masih beredar dan jadi bahan pembanding.

Cuitan dari akun @pakaipeci di atas intinya menyoroti ironi itu. Saat "bocil" istilah untuk Gibran meledek orang tua, para pendukungnya bangga. Giliran posisinya terbalik, mereka malah "tantrum". Kata-katanya memang kasar, tapi cukup menggambarkan kemarahan sekelompok netizen yang melihat fenomena ini.

Pada akhirnya, kejadian ini cuma menunjukkan satu hal: politik kita kadang diwarnai logika yang sulit dicerna. Emosi seringkali mengalahkan konsistensi. Dan semua terjadi begitu cepat di ruang digital, di mana setiap komentar bisa memicu badai yang gak kunjung reda.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar