Survei semacam ini umumnya mengandalkan "self-reported well-being". Artinya, responden ditanya langsung: apakah Anda puas? Apakah Anda bersyukur? Apakah Anda merasa bahagia?
Sebagian besar orang Indonesia, hampir bisa dipastikan, akan menjawab “Iya, bahagia.”
Budaya kita memang begitu. Ada rasa sungkan untuk mengeluh, ada malu untuk mengaku tidak bersyukur. Dalam kondisi sesulit apapun, masih ada kalimat penghibur: “Syukurlah, masih diberi napas dan kesehatan.” Persepsi subjektif, dengan kata lain, tak selalu sejalan dengan kondisi objektif.
Di sisi lain, dalam masyarakat dengan literasi terbatas dan budaya yang sangat adaptif, jawaban “bahagia” itu bisa jadi adalah mekanisme bertahan hidup. Sebuah "coping mechanism" untuk menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi. Itu bukan kebahagiaan karena sejahtera, tapi kebahagiaan karena pasrah dan berusaha menerima.
Pada akhirnya, bahagia kadang berarti saat negara bilang kamu bahagia, lalu kamu hanya mengangguk. Capek untuk berdebat. Lebih baik diiyakan saja.
Atau, jangan-jangan, rakyat jadi bahagia karena sering dihibur oleh tingkah polah elite politik yang belakangan makin mirip pertunjukan komedi?
(Setiya Jogja)
Artikel Terkait
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini