Namun begitu masjid roboh, ceritanya jadi berantakan. Warga yang penasaran menghubungi langsung yayasan dan tokoh yang disebut-sebut. Hasilnya? Mereka tak tahu menahu soal janji donasi untuk Gari.
Agus Suryanto atau AS, yang disebut sebagai penghubung, mencoba menjelaskan. Katanya, awal mulanya ada teman yang minta dicarikan masjid butuh perbaikan untuk donasi Rp 350 juta. Karena di wilayahnya masjid-masjid sudah bagus, dia pun menghubungkan ke Gari.
“Ada Rp 350 juta dan tolong carikan buat masjid,”
kata Agus menirukan percakapan waktu itu.
Menurut pengakuannya, diskusi awal belum final. Lalu, H-lah yang kemudian datang dan berbicara langsung dengan warga di masjid. Agus menduga kuat terjadi miskomunikasi di tengah jalan.
“Di obrolan itu bilang yayasan bisa datang kalau masjid dalam kondisi rata. Jadi sepemahaman saya, bukan menyuruh, tapi kalau yayasan itu dari lahan kosong… dan diminta berembuk jika ingin diterima,”
ujarnya. Dia mengaku hanya perantara dan tidak tahu detail proses setelahnya, termasuk soal desain.
Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan, mengonfirmasi kronologi ini. Dua orang itu datang menemui sesepuh dengan janji donasi penuh. Semua syarat, termasuk RAB Rp 1,8 miliar, dipenuhi warga. Komunikasi awalnya lancar, tapi makin lama makin terasa janggal.
“Benar ada yayasan (yang disebutkan H), tetapi belum benar-benar meng-ACC donasi kepada kita. Ceritanya seperti itu,”
kisah Budi via telepon.
Artikel Terkait
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini