Di Pedukuhan Gari, Wonosari, semangat gotong royong justru berkobar setelah sebuah janji pupus. Warga di sana memutuskan untuk melanjutkan sendiri pembangunan Masjid Al Huda, yang sebelumnya mereka robohkan karena iming-iming donatur. Ya, masjid itu sengaja dibongkar setelah ada yang menjanjikan dana untuk membangun ulang yang lebih baik. Syaratnya cuma satu: masjid lama harus rata dengan tanah dulu.
Tapi, usai puing-puing berserakan, sang donatur malah raib entah ke mana.
Meski tertipu dan kecewa, warga tak mau berlama-langut. Mereka bergerak. Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas sudah dimulai. Warga sibuk menyusun batu untuk talud, struktur penahan tanah yang jadi pondasi awal. Impian mereka sederhana: punya masjid baru dua lantai, dengan basement yang bisa dipakai untuk keperluan warga, seperti menyembelih hewan kurban. Perkiraan biayanya tak main-main: sekitar Rp 1,8 miliar untuk bangunan seluas 22 kali 18,5 meter.
“Insyaallah masyarakat tidak akan menuntut macam-macam. Insyaallah mudah-mudahan pembangunan ini berjalan lancar sesuai dengan harapan masyarakat,”
kata Mujiyo, salah seorang warga berusia 72 tahun, dengan nada tenang.
Rewang Dwi Atmojo, sesepuh lainnya, menegaskan bahwa warga sama sekali tak berniat membawa masalah ini ke pengadilan. Bagi mereka, ini urusan membangun rumah Allah, bukan arena berselisih.
“Nggak pernah berpikir sampai situ. Karena ini kan yang kita bangun bisa dibilang rumah Allah. Kalau warga masyarakat punya itikad yang tidak baik nanti jadinya akan tidak baik juga,”
beber Dwi. Dia mengakui kekecewaan itu ada dan terasa. Tapi justru dari situlah semangat baru muncul.
“Banyak yang kecewa. Tapi kekecewaan tersebut tidak akan menyurutkan semangat. Bahkan menjadikan semangat yang menggebu-gebu untuk membangun masjid ini,” tambahnya.
Cerita soal janji manis ini berawal November lalu. Rencana renovasi masjid yang berdiri sejak 1984 itu memang sudah ada. Gayung bersambut, datang dua orang: AS dari Gatak dan H dari Ngawen. Mereka menawarkan bantuan yayasan dari Tangerang.
Namun begitu masjid roboh, ceritanya jadi berantakan. Warga yang penasaran menghubungi langsung yayasan dan tokoh yang disebut-sebut. Hasilnya? Mereka tak tahu menahu soal janji donasi untuk Gari.
Agus Suryanto atau AS, yang disebut sebagai penghubung, mencoba menjelaskan. Katanya, awal mulanya ada teman yang minta dicarikan masjid butuh perbaikan untuk donasi Rp 350 juta. Karena di wilayahnya masjid-masjid sudah bagus, dia pun menghubungkan ke Gari.
“Ada Rp 350 juta dan tolong carikan buat masjid,”
kata Agus menirukan percakapan waktu itu.
Menurut pengakuannya, diskusi awal belum final. Lalu, H-lah yang kemudian datang dan berbicara langsung dengan warga di masjid. Agus menduga kuat terjadi miskomunikasi di tengah jalan.
“Di obrolan itu bilang yayasan bisa datang kalau masjid dalam kondisi rata. Jadi sepemahaman saya, bukan menyuruh, tapi kalau yayasan itu dari lahan kosong… dan diminta berembuk jika ingin diterima,”
ujarnya. Dia mengaku hanya perantara dan tidak tahu detail proses setelahnya, termasuk soal desain.
Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan, mengonfirmasi kronologi ini. Dua orang itu datang menemui sesepuh dengan janji donasi penuh. Semua syarat, termasuk RAB Rp 1,8 miliar, dipenuhi warga. Komunikasi awalnya lancar, tapi makin lama makin terasa janggal.
“Benar ada yayasan (yang disebutkan H), tetapi belum benar-benar meng-ACC donasi kepada kita. Ceritanya seperti itu,”
kisah Budi via telepon.
Sosok H kini sulit dihubungi. Bahkan, kata Budi, warga Gari yang dulu mendampingi H juga merasa jadi korban dalam kasus ini. Di balik semua itu, warga Gari tetap bergerak. Mereka memilih membangun, bukan menggerutu. Talud yang mereka susun hari ini bukan cuma penahan tanah, tapi juga peneguh tekad.
Artikel Terkait
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim