Mengenal Diri, Kunci Menuju Ketaatan yang Tulus

- Selasa, 06 Januari 2026 | 01:25 WIB
Mengenal Diri, Kunci Menuju Ketaatan yang Tulus

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Para ahli tafsir menerangkan, 'beribadah' di sini maknanya luas: taat kepada Allah, tunduk patuh pada-Nya, dan terikat dengan syariat-Nya. Baik itu urusan hubungan dengan Allah (seperti shalat, puasa), urusan diri sendiri (makanan, pakaian), maupun urusan bermasyarakat (politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya).

Bakti Tanpa Syarat

Seorang hamba yang selalu merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah akan paham, tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan-Nya. Segala sesuatu diatur dengan aturan terbaik. Untuk makhluk tidak berakal saja aturannya sempurna, apalagi untuk manusia yang diberi akal. Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۚ وَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا

"Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi (seseorang) walaupun sebesar zarah. Jika (sesuatu yang sebesar zarah) itu berupa kebaikan, niscaya Allah akan melipatgandakannya..." (QS. An-Nisa: 40).

Inilah yang membuat seorang muslim yang sadar tak ragu-ragu lagi. Tidak ada "tapi" dalam menjalankan perintah-Nya. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda bakti. Syariat Islam justru menjadi kebutuhan dirinya sendiri untuk keselamatan, bukan untuk kepentingan Allah. Karena Allah sama sekali tidak membutuhkan ibadah kita.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits qudsi:

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ ... مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا ... مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

"Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama hingga terakhir dari kalian bertakwa seperti orang paling bertakwa di antara kalian, itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Sebaliknya, jika mereka semua berbuat jahat, itu juga tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun." (HR. Muslim)

Kesadaran lain yang menguatkan adalah ingat akan kematian. Bahwa hidup setelah mati adalah kehidupan yang sesungguhnya. Di sana ada pengadilan yang adil, di mana setiap anggota tubuh kita akan bersaksi. Tidak bisa berbohong.

Rasa takut meninggal dalam keadaan tidak taat, rindu akan surga dan ridha-Nya inilah yang mendorong seorang hamba untuk bersegera. Taati Allah tanpa menunda. Jauhi maksiat karena itu hanya merugikan diri sendiri, dunia akhirat.

Hidup ini bukan panggung untuk menuruti nafsu. Tapi arena untuk menghamba dan berbakti pada Ilahi Rabbi. Wallahu a’lam bish-shawab.


Desti Ritdamaya
Praktisi Pendidikan.


Halaman:

Komentar