Arca Panji ITB: Dibersihkan Secara Fisik dan Spiritual Setelah 70 Tahun

- Kamis, 08 Januari 2026 | 21:00 WIB
Arca Panji ITB: Dibersihkan Secara Fisik dan Spiritual Setelah 70 Tahun

Di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, tersimpan koleksi unik: 25 arca Panji dari Candi Selokelir. Bahkan, mungkin 26 satu lagi masih dalam proses verifikasi. Arca-arca bersejarah ini bukan barang baru; mereka peninggalan era Majapahit sekitar tahun 1434 M, atau abad ke-15. Candi Selokelir sendiri, situs Hindu yang jadi asal-usul arca ini, terletak di lereng Gunung Penanggungan, Mojokerto.

Lantas, bagaimana ceritanya benda purbakala dari Jawa Timur bisa berakhir di kampus Bandung? Kisahnya bermula jauh di tahun 1951. Menurut catatan Kementerian Pendidikan kala itu, arca-arca ini dibawa oleh sejumlah peneliti, termasuk V.R. van Romondt, J. Oey-Blom, dan Ichwani.

Dr. Kiki Rizky Soetisna, dosen sekaligus peneliti di FSRD ITB, menjelaskan status koleksi ini.

"Inventarisasi resminya dilakukan tahun 1990-an. ITB sudah memasukkan dan memberi nomor cagar budaya. Jadi, kami yakin ini masih aset ITB," ujarnya saat berbincang di kampus, Kamis lalu.

"Ya, sebagai pemilik, kewajiban kamilah untuk merawatnya. Kami berusaha menjaganya sehari-hari," lanjut Kiki, yang juga menjabat sebagai Principal Investigator di Center for Indonesian Visual Art Studies (CIVAS).

Lembaga itu, katanya, ibarat laboratorium di bawah FSRD yang mengelola dan merawat arsip-arsip sejarah, termasuk terkait pendirian kampus seni rupa ITB.

Merawat Peninggalan Berusia Ratusan Tahun

Merawat benda berusia enam abad tentu bukan hal sederhana. Namun, Kiki menyebut perawatan hariannya justru mengandalkan kewaspadaan.

"Sebenarnya, yang paling utama kami jaga adalah agar tidak ada vandalisme. Itu prioritas," tegasnya.

Selain itu, pembersihan debu yang menempel dilakukan secara berkala. Namun, ada upaya lebih serius yang sedang berjalan. ITB mendapat anugerah grant dari The Dutch Research Council untuk riset selama lima tahun. "Tahun pertama fokus kami adalah konservasi atau pembersihan menyeluruh," jelas Kiki.

Lebih Dari Sekadar Membersihkan Debu

Pendekatan pembersihannya ternyata unik, melibatkan dua aspek sekaligus: fisik dan spiritual.

"Kami bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan dan mendatangkan seorang konservator dari Balai Pelestarian Borobudur di Magelang untuk pembersihan fisik," papar Kiki.

Prosesnya mekanis, baik secara kering maupun basah, untuk mengangkat debu dan kotoran yang telah menumpuk puluhan tahun. Tapi, cerita tidak berhenti di situ.

"Pembersihan kedua kami lakukan secara spiritual. Kami mengundang seorang Pinandita Hindu dan mengadakan dua upacara, pada April dan Oktober," ujarnya.

Ritual di April, lanjut Kiki, intinya adalah meminta izin dan restu. "Ini bentuk pengakuan kami. Walaupun sekarang arca-arca ini ada di lingkungan kampus, dulunya mereka adalah entitas yang disakralkan. Kami ingin meng-"acknowledge" realitas sejarah itu."

Ritual Permohonan dan Penutupan

Rangkaian ritualnya punya alur yang jelas. Upacara pertama di April, disebut Mepiuning, adalah ritual permintaan izin untuk memulai proses konservasi.

"Lalu, kami tutup dengan upacara kedua di Oktober. Tujuannya untuk membersihkan energi, mengucap terima kasih, dan mengembalikan segala sesuatu pada energi yang baik," jelas Kiki.

Ritual itu juga dimaksudkan untuk membawa kedamaian dan energi positif bagi para peneliti yang akan melanjutkan kerja riset mereka. "Begitulah proses pembersihan lengkap yang kami lakukan tahun ini," tutupnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar