Lebih Dari Sekadar Membersihkan Debu
Pendekatan pembersihannya ternyata unik, melibatkan dua aspek sekaligus: fisik dan spiritual.
"Kami bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan dan mendatangkan seorang konservator dari Balai Pelestarian Borobudur di Magelang untuk pembersihan fisik," papar Kiki.
Prosesnya mekanis, baik secara kering maupun basah, untuk mengangkat debu dan kotoran yang telah menumpuk puluhan tahun. Tapi, cerita tidak berhenti di situ.
"Pembersihan kedua kami lakukan secara spiritual. Kami mengundang seorang Pinandita Hindu dan mengadakan dua upacara, pada April dan Oktober," ujarnya.
Ritual di April, lanjut Kiki, intinya adalah meminta izin dan restu. "Ini bentuk pengakuan kami. Walaupun sekarang arca-arca ini ada di lingkungan kampus, dulunya mereka adalah entitas yang disakralkan. Kami ingin meng-"acknowledge" realitas sejarah itu."
Ritual Permohonan dan Penutupan
Rangkaian ritualnya punya alur yang jelas. Upacara pertama di April, disebut Mepiuning, adalah ritual permintaan izin untuk memulai proses konservasi.
"Lalu, kami tutup dengan upacara kedua di Oktober. Tujuannya untuk membersihkan energi, mengucap terima kasih, dan mengembalikan segala sesuatu pada energi yang baik," jelas Kiki.
Ritual itu juga dimaksudkan untuk membawa kedamaian dan energi positif bagi para peneliti yang akan melanjutkan kerja riset mereka. "Begitulah proses pembersihan lengkap yang kami lakukan tahun ini," tutupnya.
Artikel Terkait
Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual
Debt Collector di Metro Diamankan, Diduga Gelapkan Mobil Debitur Rp285 Juta
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin