Nadav Eyal, seorang analis Israel yang cukup dikenal, baru-baru ini membuat pernyataan menohok seputar kegagalan intelijen negaranya. Dalam tulisannya untuk Yediot Aharonot, Eyal mengungkap sebuah fakta yang bagi banyak orang terdengar luar biasa.
Sejak Israel hengkang dari Gaza di tahun 2005, badan intelijen Shin Bet ternyata tak punya satu pun agen yang benar-benar punya pengaruh di tubuh Hamas. Baik di sayap militer maupun politiknya.
"Ini salah satu alasan utama," tulis Eyal, "mengapa Israel sama sekali tidak mengantisipasi serangan Hamas, terutama yang terjadi pada 7 Oktober lalu."
Menurutnya, Hamas bukanlah lawan biasa. Kelompok ini digambarkannya sebagai organisasi paling sulit dipecahkan di Timur Tengah. "Mereka tertutup, penuh rahasia, sangat disiplin, dan punya ideologi yang kuat. Strukturnya juga terorganisir dengan sangat baik," paparnya.
"
Untuk memahami konteksnya, kita perlu mundur jauh ke belakang. Keterikatan Israel dengan Gaza bermula dari kemenangan gemilang mereka dalam Perang Enam Hari, yang hanya berlangsung lima hari di Juni 1967. Dalam konflik kilat itu, Israel berhasil mengalahkan koalisi Mesir, Yordania, dan Suriah.
Artikel Terkait
Seratus Tahun NU: Seruan Kembali ke Khittah di Tengah Keresahan
Sorot Mata yang Pudar: Trauma Bocah Cianjur Usai Diterjang Delapan Anjing Liar
Bambu dan Petasan Warnai Kericuhan di Musda Golkar Sumut
Di Balik Angpao dan Kembang Api: Filosofi Tersembunyi yang Menghidupkan Imlek