Nadav Eyal, seorang analis Israel yang cukup dikenal, baru-baru ini membuat pernyataan menohok seputar kegagalan intelijen negaranya. Dalam tulisannya untuk Yediot Aharonot, Eyal mengungkap sebuah fakta yang bagi banyak orang terdengar luar biasa.
Sejak Israel hengkang dari Gaza di tahun 2005, badan intelijen Shin Bet ternyata tak punya satu pun agen yang benar-benar punya pengaruh di tubuh Hamas. Baik di sayap militer maupun politiknya.
"Ini salah satu alasan utama," tulis Eyal, "mengapa Israel sama sekali tidak mengantisipasi serangan Hamas, terutama yang terjadi pada 7 Oktober lalu."
Menurutnya, Hamas bukanlah lawan biasa. Kelompok ini digambarkannya sebagai organisasi paling sulit dipecahkan di Timur Tengah. "Mereka tertutup, penuh rahasia, sangat disiplin, dan punya ideologi yang kuat. Strukturnya juga terorganisir dengan sangat baik," paparnya.
"
Untuk memahami konteksnya, kita perlu mundur jauh ke belakang. Keterikatan Israel dengan Gaza bermula dari kemenangan gemilang mereka dalam Perang Enam Hari, yang hanya berlangsung lima hari di Juni 1967. Dalam konflik kilat itu, Israel berhasil mengalahkan koalisi Mesir, Yordania, dan Suriah.
Hasilnya, wilayah kekuasaan Israel meluas drastis. Mereka merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir. Lalu, Tepi Barat serta Yerusalem Timur beralih dari tangan Yordania. Sementara Dataran Tinggi Golan direbut dari Suriah.
Namun, sebelum dikuasai Israel, Gaza sebenarnya berada di bawah kendali Mesir. Setelah perang 1948, Mesir mengelola wilayah itu melalui gubernur militer mulai 1949. Kendati memegang kendali, Kairo tak pernah secara resmi menjadikan Gaza sebagai bagian dari wilayah nasionalnya.
Kekuasaan Israel atas Gaza pun berlangsung lama, hampir empat dekade. Dari 1967 hingga 2005, atau tepatnya 38 tahun, Israel menduduki wilayah tersebut dengan pemerintahan militer langsung. Mereka membangun permukiman-permukiman Yahudi di sana dan mengontrol hampir semua aspek kehidupan.
Semuanya berubah pada 2005. Di bawah kebijakan yang disebut "Rencana Disengagement", Israel akhirnya menarik seluruh pasukan dan pemukimnya sekitar 8.000 hingga 9.000 orang dari Gaza dalam operasi besar-besaran antara Agustus dan September.
Meski begitu, penarikan itu bukan berarti pembebasan total. Israel masih memegang kendali atas langit Gaza, perbatasan darat, dan perairan pantainya. Blokade yang kemudian diberlakukan membentuk kehidupan di jalur sempit itu.
Vakum kekuasaan pasca-penarikan Israel membuka babak baru. Hamas, yang memenangkan pemilu legislatif pada 2006, lalu mengambil alih kendali penuh atas Gaza setahun setelahnya. Dan sejak 2007 itulah, mereka berkuasa hingga hari ini.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu