Hasilnya, wilayah kekuasaan Israel meluas drastis. Mereka merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir. Lalu, Tepi Barat serta Yerusalem Timur beralih dari tangan Yordania. Sementara Dataran Tinggi Golan direbut dari Suriah.
Namun, sebelum dikuasai Israel, Gaza sebenarnya berada di bawah kendali Mesir. Setelah perang 1948, Mesir mengelola wilayah itu melalui gubernur militer mulai 1949. Kendati memegang kendali, Kairo tak pernah secara resmi menjadikan Gaza sebagai bagian dari wilayah nasionalnya.
Kekuasaan Israel atas Gaza pun berlangsung lama, hampir empat dekade. Dari 1967 hingga 2005, atau tepatnya 38 tahun, Israel menduduki wilayah tersebut dengan pemerintahan militer langsung. Mereka membangun permukiman-permukiman Yahudi di sana dan mengontrol hampir semua aspek kehidupan.
Semuanya berubah pada 2005. Di bawah kebijakan yang disebut "Rencana Disengagement", Israel akhirnya menarik seluruh pasukan dan pemukimnya sekitar 8.000 hingga 9.000 orang dari Gaza dalam operasi besar-besaran antara Agustus dan September.
Meski begitu, penarikan itu bukan berarti pembebasan total. Israel masih memegang kendali atas langit Gaza, perbatasan darat, dan perairan pantainya. Blokade yang kemudian diberlakukan membentuk kehidupan di jalur sempit itu.
Vakum kekuasaan pasca-penarikan Israel membuka babak baru. Hamas, yang memenangkan pemilu legislatif pada 2006, lalu mengambil alih kendali penuh atas Gaza setahun setelahnya. Dan sejak 2007 itulah, mereka berkuasa hingga hari ini.
Artikel Terkait
Tabung Gas Meledak di Palembang, Dua Ibu Tewas Saat Siapkan Hidangan Ramadhan
Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Trump: Jebakan atau Pengkhianatan Konstitusi?
Prabowo Diam, Polri Tetap di Bawah Presiden: Strategi atau Keengganan Reformasi?
Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu