BRIN Rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 sebagai Peta Pembangunan

- Selasa, 24 Februari 2026 | 20:25 WIB
BRIN Rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 sebagai Peta Pembangunan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja merilis Indeks Daya Saing Daerah untuk tahun 2025. Ini bukan sekadar angka-angka biasa. Menurut BRIN, indeks ini bisa jadi peta penting buat daerah-daerah yang ingin tahu posisi mereka dan ke mana arah pembangunan harus digenjot.

Data utamanya diambil dari Badan Pusat Statistik, lantas diolah jadi empat ukuran kunci: kualitas lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan yang tak kalah penting, ekosistem inovasi. Intinya, ini jadi pegangan praktis bagi para kepala daerah.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa pengukuran di level daerah ini ibarat kompas. "Jadi, indeks sekali lagi bukan sekadar upaya peningkatan (skor), tetapi kita harapkan indeks ini bisa berdampak pada perubahan dan transformasi yang dilakukan oleh kepala daerah, khususnya dalam berbagai bidang, terutama bidang ekonomi," ujar Arif, Selasa lalu.

Dia bilang, skor IDSD memberi gambaran nyata buat pemda. Dari situ, mereka bisa menata ulang kebijakan dan mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Nah, peran BRIN sendiri tak berhenti di pengukuran. Arif menegaskan lembaganya akan kolaborasi dengan BRIDA dan Bapperida di daerah. Tujuannya jelas: mendongkrak inovasi lokal. Kalau ekosistem riset dan inovasi sudah kuat, nilai tambah untuk daerah pasti akan tercipta.

"Tumbuhnya riset dan inovasi ini akan menjadi kekuatan bagi Indonesia ke depan," jelasnya penuh keyakinan. Menurut Arif, mimpi Indonesia masuk empat besar dunia di 2050 cuma bisa dicapai dengan satu cara: memperkuat human capital dan inovasi. Tidak ada jalan lain.

Harapannya, rilis indeks ini memacu semangat daerah untuk berbenah lewat beragam program dan kebijakan yang tepat sasaran.

"BRIN, melalui BRIDA, insya Allah siap memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah. Tentu, kami juga akan mengandalkan berbagai perguruan tinggi agar inovasi dan teknologi yang ada dapat memperkuat ekonomi daerah," tambahnya.

Dari sisi pemerintah pusat, responsnya cukup positif. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mengapresiasi pemutakhiran indeks ini. Dia melihatnya sebagai cermin bagi daya saing nasional, sekaligus langkah awal menuju Indonesia Emas 2045.

Tapi Rachmat juga memberi catatan. "Saya juga berharap Kepala BRIN memastikan bahwa indeks ini nantinya juga mencerminkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Jadi, tidak sekadar indeks, karena indeks itu angka, tetapi juga mencerminkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Di sisi lain, Wakil Mendagri Bima Arya Sugiarto menyebut pihaknya akan terus berkoordinasi dengan BRIN soal pembinaan teknis inovasi di daerah. Menurutnya, urusan inovasi ini harus menyeluruh.

"Inovasi ini bukan hanya lomba, tetapi harus terintegrasi mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga evaluasi. Tentu akan membutuhkan co-creation dan keterlibatan banyak pihak," ujar Bima Arya.

Jadi, semua sepakat indeks ini penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana angka-angka itu diterjemahkan jadi aksi nyata yang dirasakan masyarakat langsung di daerah masing-masing.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar