Operasi Kilat AS: Akhir Dramatis Satu Dekade Kekuasaan Maduro

- Minggu, 04 Januari 2026 | 22:25 WIB
Operasi Kilat AS: Akhir Dramatis Satu Dekade Kekuasaan Maduro

Setelah Chavez bebas dan kemudian memenangkan pemilu 1998, Maduro pun ikut masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Dia terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante Nasional. Kedekatannya dengan Chavez makin erat, hingga akhirnya dia dipercaya menjabat menteri luar negeri, lalu wakil presiden di tengah kondisi kesehatan Chavez yang kian memburuk pada 2012.

Memegang Kendali di Tengah Badai

Desember 2012 menjadi momen penting. Chavez yang sakit parah, dalam sebuah pidato televisi, menunjuk Maduro sebagai penerusnya. Setelah Chavez wafat, Maduro memenangkan pemilu April 2013 dengan selisih tipis. Sejak hari pertama, gayanya keras. Dia mengusir diplomat AS, menyebut mereka "musuh sejarah" yang diduga meracuni Chavez. Oposisi dalam negeri dicapnya sebagai 'fasis'.

Dia mewarisi mesin politik yang sudah dibangun rapi oleh Chavez: kendali atas militer, Mahkamah Agung, dan media negara. Tapi, ada satu hal yang tak bisa diwarisi: karisma. Tanpa karisma mentornya, dia harus menghadapi kenyataan pahit: ekonomi yang runtuh dan oposisi yang semakin lantang, termasuk dari sosok seperti Maria Corina Machado pemenang Nobel Perdamaian 2025. Gelombang demonstrasi pun meluas. Tanggapannya? Tindakan keras. Setidaknya 43 nyawa melayang dalam aksi penindasan itu.

Tekanan makin menjadi. Pada 2017, untuk menetralisir parlemen yang dikuasai oposisi, dia membentuk majelis konstituante baru yang pro-pemerintah. Protes dan penindasan berulang, korban jiwa bertambah. Sementara itu, ekonomi benar-benar hancur. Hampir 30 juta penduduk Venezuela kesulitan mendapatkan barang pokok. Produksi minyak, andalan negara, merosot drastis.

Pemilu 2018 dan 2024 diwarnai kontroversi. Maduro dinyatakan menang, tetapi banyak negara, termasuk AS, menolak mengakuinya. Pemimpin oposisi dijebloskan ke penjara atau dipaksa mengungsi. Demonstrasi massa kembali pecah, dan sekali lagi, dijawab dengan kekuatan.

Keputusan Trump dan Akhir yang Dramatis

Di sisi lain, di Washington, keputusan besar sedang matang. Setelah Presiden Donald Trump kembali menjabat untuk periode kedua pada Januari tahun lalu, tekanan terhadap Caracas meningkat signifikan. Pemerintah Trump tak main-main: memberlakukan tarif 25 persen, menggandakan hadiah untuk penangkapan Maduro, dan menyasar keluarga dekatnya dengan sanksi.

Sejak September, operasi militer AS mulai intensif. Kapal-kapal di perairan dekat Venezuela diserang, dengan tuduhan terlibat "narco-terorisme". Semua itu adalah prekuel dari aksi Sabtu lalu. Operasi yang cepat dan rapi itu akhirnya mengakhiri satu dekade lebih kekuasaan Maduro. Dia dan istrinya sekarang berada di tangan Amerika, menunggu proses hukum yang akan menentukan nasib mereka.


Halaman:

Komentar