Di sisi lain, Korut juga punya penilaian tegas soal status Maduro. Mencopotnya dari kekuasaan dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan. Bukan cuma melawan hukum internasional, tapi juga menginjak-injak Piagam PBB.
Karena itu, seruan pun dilayangkan. Komunitas internasional didesak untuk bersuara lantang menentang aksi AS ini. “Suara-suara protes dan kecaman yang semestinya terhadap pelanggaran kedaulatan negara lain yang sudah menjadi kebiasaan Amerika Serikat,” tekan juru bicara itu lagi.
Bagi pengamat, reaksi keras Pyongyang ini mungkin bisa ditebak. Skenario penangkapan pemimpin seperti ini disebut-sebut jadi mimpi terburuk bagi elite Korut. Sudah bertahun-tahun mereka menuduh Washington punya kebiasaan buruk: berusaha menggulingkan pemerintahan yang dianggap tidak sejalan.
Nah, ini juga yang kerap dijadikan pembenaran. Selama puluhan tahun, program nuklir dan rudal Korut diklaim sebagai tameng, upaya pencegah agar AS tidak main ganti rezim. Hubungan dengan Caracas pun cukup erat. Jadi wajar saja kalau Pyongyang termasuk pendukung vokal bagi pemerintahan sosialis Maduro di Venezuela.
Artikel Terkait
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana