Reaksi dari dalam Venezuela datang cepat. Wakil Presiden Delcy Rodriguez tampil di televisi nasional, dikelilingi pejabat tinggi pemerintah. Suaranya tegas.
“Kami menuntut pembebasan segera Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores,” serunya. Ia menyebut penangkapan itu sebagai aksi penculikan, dan menegaskan Maduro tetap satu-satunya presiden yang sah.
Tak lama setelah itu, pengadilan di Venezuela menetapkan Rodriguez sebagai presiden sementara. Situasinya jadi makin rumit: ada dua klaim kepemimpinan yang saling bertolak belakang.
Sebelum operasi ini, sebenarnya sudah ada sinyal. Trump sempat menyinggung soal serangan AS ke sebuah fasilitas besar terkait narkoba dalam wawancara radio pada Jumat, meski tanpa rincian lokasi. Aksi Sabtu dini hari itu seolah jadi puncak dari eskalasi yang berlangsung berbulan-bulan. Sejak September, operasi militer AS di Karibia dan Pasifik timur meningkat drastis dalam rangka pemberantasan narkoba, begitu klaim resminya. Laporan menyebut setidaknya 105 orang tewas dalam 29 serangan terpisah.
Tekanan terhadap Caracas memang makin menjadi. Blokade kapal tanker, penyitaan kapal, dan penempatan militer di dekat perairan Venezuela sudah sering terjadi belakangan ini. Operasi penangkapan Maduro, dengan segala konsekuensinya, mungkin baru babak pertama dari sebuah drama panjang yang belum jelas ujungnya.
Artikel Terkait
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Menteri Pertanian Soroti Rembesan Gula Rafinasi yang Rugikan Petani dan BUMN
Prabowo Ingatkan Ancaman Manipulasi AI dan Akun Palsu di Media Sosial