Operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1) lalu, ternyata bukan aksi dadakan. Menurut laporan, ini adalah hasil perencanaan berbulan-bulan yang sangat rumit. Bayangkan saja, begitu ancaman serangan mengudara, Maduro langsung menghilang ke dalam rumah amannya yang seperti benteng.
Nah, menurut sumber militer AS yang dekat dengan peristiwa ini, persiapan sudah dimulai sejak lama. Pasukan elit seperti Delta Force bahkan berlatih berulang kali untuk memastikan semuanya berjalan mulus.
Kunci keberhasilannya? Intelijen. Rupanya, sejak Agustus 2025, CIA sudah menyusupkan tim kecil ke Venezuela. Tugas mereka sederhana tapi krusial: mempelajari setiap kebiasaan Maduro dan detail lokasi persembunyiannya.
Data yang mereka kumpulkan kemudian digunakan untuk membangun replika rumah aman sang presiden. Replika inilah yang jadi lokasi latihan intensif bagi pasukan Delta Force. Jadi, ketika hari-H tiba, mereka sudah hapal betul medannya.
Hari H: Caracas Digempur, Pasukan Khusus Menyusup dalam Senyap
Semua berawal dari perintah Presiden Donald Trump. Pada Jumat pukul 10.46 waktu AS, dari Mar-a-Lago di Florida, dia memberi lampu hijau untuk 'Operation Absolute Resolve'. Operasi ini dipimpin langsung oleh Jenderal Dan Caine.
"Saya punya berita bagus, bahkan saya sendiri tak pernah lihat sesuatu seperti ini," ujar Trump kepada para wartawan, tak menyembunyikan rasa bangganya.
Malam itu, langit Venezuela berubah jadi neraka. Sekitar 150 pesawat, termasuk jet siluman F-35 dan F-22 serta pembom B-1, menghujani target-target militer. Pertahanan udara Venezuela jadi sasaran utama, menciptakan kekacauan yang sempurna.
Di tengah hiruk-pikuk serangan udara itulah, pasukan elite AS bergerak. Mereka menyusup masuk ke ibu kota Caracas, lengkap dengan peralatan untuk membongkar rintangan. Tujuannya satu: rumah aman Maduro.
Perjalanan mereka tidak sepenuhnya mulus. Sekitar pukul 1 dini hari Sabtu, helikopter yang membawa mereka ditembaki. Satu helikopter terkena, tapi masih bisa melanjutkan penerbangan.
Sesampainya di lokasi, pasukan bersama agen FBI langsung bergerak masuk.
"Mereka merangsek masuk, menjebol beberapa sisi yang tentu saja tidak mudah. Sebab, ada pintu-pintu besi, yang dipasang untuk perlindungan. Tapi semua bisa diatasi beberapa detik," papar Trump menggambarkan momen kritis itu.
Di dalam, Maduro dan istrinya sama sekali tak berkutik. Mereka bahkan tak sempat mencapai ruang aman. "Mereka disergap dengan cepat, sehingga tak dapat melarikan diri," tambah Trump.
Tak sampai 7 jam usai operasi, Trump sendiri yang membocorkan keberadaan Maduro. Lewat Truth Social, dia menulis singkat: "Nicolas Maduro, di Kapal USS Iwo Jima." Dari sana, mantan presiden itu langsung dibawa ke New York untuk menjalani proses hukum.
Rangkaian Dakwaan Menunggu
Di Amerika, Jaksa Agung Pam Bondi sudah menunggu. Dia menegaskan Maduro akan menghadapi pengadilan AS. "Dia akan menghadapi murka keadilan AS di tanah Amerika dan di pengadilan Amerika," tegas Bondi.
Dakwaannya berat. Mulai dari Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, hingga kepemilikan senjata secara ilegal. Sebenarnya, dakwaan dari Distrik Selatan New York ini sudah menjerat Maduro sejak 2020.
Pemerintah Trump selama ini memang kerap menyebut Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba. Tuduhan yang selalu dibantah keras oleh Maduro dan pemerintahannya. Kini, semua akan diuji di ruang pengadilan.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah