Sudah delapan puluh tahun berlalu sejak kemerdekaan kita. Tapi, mimpi tentang Indonesia yang adil dan makmur? Rasanya masih jauh dari genggaman. Lihat saja realitanya. Kemiskinan, menurut data Bank Dunia, masih menjerat lebih dari seratus juta jiwa. Sementara itu, kekayaan seolah hanya berputar di kalangan pejabat dan pengusaha yang dekat dengan pusat kekuasaan. Belum lagi soal kebodohan dan kriminalitas yang masih jadi pemandangan sehari-hari di negeri ini.
Di sisi lain, tantangan yang kita hadapi makin kompleks. Dinamika global berubah cepat, nilai-nilai sosial bergeser, semua ini menuntut sosok pemimpin yang bukan cuma jago mengatur administrasi. Lebih dari itu, dia harus jadi teladan secara moral, intelektual, dan spiritual. Banyak pakar bilang, karakter seorang pemimpin itu langsung mempengaruhi budaya dan kinerja organisasi bahkan sebuah bangsa. Intinya, kalau mau wujudkan Indonesia yang kita cita-citakan, kita butuh pemimpin yang bisa diteladani.
Nah, dalam dunia manajemen, ada konsep “lead by example”. Ini jadi dasar dari apa yang disebut kepemimpinan transformatif. James MacGregor Burns, ahli kepemimpinan klasik, pernah menegaskan bahwa pemimpin transformatif itu bukan cuma mengarahkan, tapi juga menginspirasi perubahan nilai dan perilaku.
Stephen R. Covey, lewat bukunya yang legendaris “The 7 Habits of Highly Effective People”, juga punya pandangan serupa. Menurutnya, kebiasaan seperti “Be Proactive” dan “Begin with the End in Mind” itu krusial. Artinya, pemimpin harus bertindak berdasarkan prinsip dan visi yang jelas, bukan cuma reaktif. Covey selalu menekankan bahwa integritas dan karakter adalah pondasi yang mutlak.
Kalau kita lihat dari kacamata psikologi sosial, teori social learning dari Albert Bandura menjelaskan banyak hal. Manusia belajar dengan mengamati. Perilaku pemimpin entah baik atau buruk akan ditiru oleh bawahannya. Dalam konteks organisasi, model perilaku yang konsisten bisa membentuk norma budaya yang kuat.
Ini bukan cuma teori di atas kertas. Kita bisa lihat sendiri dalam keseharian. Pemimpin yang disiplin dan jujur biasanya menciptakan lingkungan kerja yang produktif. Sebaliknya, kalau pemimpin plin-plan dan munafik? Yang ada cuma konflik dan ketidakpercayaan.
Lalu, seperti apa sih ciri-ciri pemimpin teladan itu? Berdasarkan berbagai kajian, setidaknya ada beberapa poin utama.
Pertama, soal kecerdasan. Bukan cuma intelektual, tapi juga emosional. Pemimpin harus bisa berpikir kritis dan memahami realitas. Tapi yang tak kalah penting adalah kemampuan mengelola emosi diri sendiri dan memahami perasaan orang lain. Daniel Goleman, yang populer dengan konsep Emotional Intelligence, menyebut ini sebagai penentu kesuksesan seorang pemimpin.
Kedua, akhlak dan nilai moral. Integritas, kejujuran, keselarasan antara kata dan perbuatan tanpa ini, kepercayaan akan mudah luntur. Peter Northouse, ahli etika kepemimpinan, bilang pemimpin harus punya standar moral tinggi. Sebab, kekuasaan tanpa moral cenderung disalahgunakan.
Ketiga, keteladanan dalam nilai spiritual. Di Indonesia yang religius, aspek ini sering dilihat sebagai cermin kedalaman nilai seorang pemimpin. Bukan sekadar ritual formal, tapi lebih pada komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan universal seperti keadilan dan kasih sayang.
Terakhir, pengaruhnya terhadap bawahan. Ada efek beruntun (cascade effect) dalam organisasi. Perilaku pimpinan puncak biasanya ditiru oleh level di bawahnya. Kalau sang pemimpin memberi contoh baik, budaya organisasi pun bisa terbentuk menjadi positif dan kuat.
Dalam percakapan publik di Indonesia, satu nama yang kerap disebut punya karakter seperti itu adalah Anies Baswedan. Kecerdasannya, rekam jejaknya, empati, serta nilai spiritual yang dipegangnya sering jadi bahan pembicaraan.
Namun begitu, kalau kita bandingkan dengan figur lain seperti Joko Widodo dan Prabowo Subianto, klaim keteladanan Anies dianggap lebih menonjol oleh penulis. Jokowi disebut-sebut sebagai pemimpin yang suka berbohong, gemar menjual aset negara ke luar negeri, serta dianggap melakukan politik dinasti dan deislamisasi.
Artikel Terkait
Beban Bunga Rp599 Triliun Ancam Ruang Gerak Fiskal Pemerintah
Kurir Blitar Heboh Laporkan Motor Hilang, Ternyata Cuma Lupa Tempat Parkir
Ledakan Misterius di Caracas, AS Dituding Lakukan Serangan Rudal
Tanpa Sadar, Keseharian Kita Dipenuhi Kata-Kata Berakar Arab