Sementara Prabowo, dinilai kurang bisa jadi teladan dalam hal kehidupan keluarga dan ibadah. Kemampuan manajemennya dipertanyakan, dan ia dianggap terlalu materialistik serta kurang mengedepankan nilai-nilai spiritual.
Para ahli seperti Edgar Schein bilang, pemimpin puncak itu membentuk nilai dasar yang jadi norma dalam sistem sosial. Jadi, kalau seorang pemimpin konsisten menunjukkan integritas tinggi, besar kemungkinan para pemimpin di level bawah akan meniru.
Harapannya sih sederhana. Bukan cuma bergantung pada satu orang, tapi terciptanya budaya kepemimpinan yang berakar pada keteladanan. Bukan sekadar strategi politik atau manuver administratif belaka. Ketika etika, profesionalisme, dan spiritualitas menyatu dalam diri pemimpin nasional, fondasi bangsa yang kuat dan adil baru bisa benar-benar terwujud.
Pemikiran klasik dari Imam Al-Ghazali masih relevan hingga kini. Beliau pernah menyatakan,
Bagi Al-Ghazali, pemimpin adalah cermin moral masyarakat. Kalau pemimpin kehilangan akhlak dan rasa takut kepada Tuhan, maka aparat di bawahnya akan meniru. Korupsi dianggap biasa, kebohongan jadi kebiasaan. Pandangan ini nyambung banget dengan teori role modeling modern: perilaku elite selalu menetes ke bawah.
Ibnu Khaldun, dalam “Muqaddimah”-nya, punya teori siklus peradaban. Menurutnya, kemunduran suatu negara sering berawal dari kerusakan moral elite penguasa, bukan faktor ekonomi semata. Ketika pemimpin kehilangan asabiyyah solidaritas moral dan keteladanan aparatur negara berubah jadi pemburu rente, hukum jadi alat kekuasaan, dan rakyat kehilangan kepercayaan.
Di Indonesia, tokoh seperti Mohammad Natsir juga menegaskan hal serupa. Kepemimpinan dalam Islam haruslah uswah hasanah, teladan yang baik. Natsir menolak keras konsep pemimpin yang kuat secara politik tapi kosong moral. “Negara tidak akan tegak dengan undang-undang saja, jika orang yang menjalankannya tidak bermoral,” begitu katanya.
Buya Hamka juga tegas. Dalam “Tafsir Al-Azhar”, beliau menulis bahwa rakyat lebih mudah mengikuti perbuatan pemimpin daripada perintahnya. “Akhlak pemimpin adalah khutbah yang tidak pernah berhenti,” tulis Hamka. Pemimpin yang tidak memberi contoh, di matanya, adalah sumber kerusakan sosial.
Jadi, baik dari teori manajemen modern, psikologi, hingga pemikiran intelektual Islam, benang merahnya sama: pemimpin yang tidak teladan pada akhirnya melahirkan ketidakadilan.
Sebenarnya, Indonesia ini tidak kekurangan orang pintar. Program dan kekuasaan juga ada. Yang sering kali absen adalah pemimpin yang benar-benar bisa diteladani dalam pikiran, tindakan, dan nilai hidupnya.
Bangsa besar butuh teladan besar. Dan itu harus dimulai dari pucuk pimpinan. Keteladanan itu akan menular, merembes ke para pemimpin di tingkat bawah. Dari situlah, impian tentang Indonesia yang adil dan makmur mungkin saja bisa kita raih. Wallahu alimun hakim.
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.
Artikel Terkait
Beban Bunga Rp599 Triliun Ancam Ruang Gerak Fiskal Pemerintah
Kurir Blitar Heboh Laporkan Motor Hilang, Ternyata Cuma Lupa Tempat Parkir
Ledakan Misterius di Caracas, AS Dituding Lakukan Serangan Rudal
Tanpa Sadar, Keseharian Kita Dipenuhi Kata-Kata Berakar Arab