Sekolah Ketiga: Saat Topeng Sosial Mulai Terasa Berat

- Jumat, 02 Januari 2026 | 05:06 WIB
Sekolah Ketiga: Saat Topeng Sosial Mulai Terasa Berat

Memasuki gerbang sekolah ketiga, rasa jenuh emosionalku benar-benar di titik terendah. Menjadi murid baru untuk ketiga kalinya dalam waktu singkat? Itu kerja keras yang sunyi dan menguras tenaga. Aku sadar, kalau cuma diam, bakalan tenggelam dan terasingkan. Makanya, mesin sosial di dalam diriku dipaksa kerja lembur.

Menyapa dengan riang, melempar pertanyaan basa-basi, mencoba nyelonong ke obrolan yang udah punya ‘bahasa rahasia’ sendiri semua kulakukan. Tujuannya cuma satu: agar cepat dapat tempat.

Tapi di balik semua tawa yang kubagikan, energiku terkuras habis. Pulang ke rumah di sore hari, rasanya lelah yang amat sangat. Hanya ingin melepas topeng ‘si anak aktif’ yang dipakai seharian.

Pelajaran dari Ketidakpastian

Namun begitu, di balik segala kelelahan itu, perlahan muncul sudut pandang baru. Coba bayangkan, kalau aku tidak pernah pindah, mungkin pandanganku tentang dunia cuma sebatas pagar sekolah pertama saja.

Memang sakit, tapi perpindahan yang bertubi-tubi ini justru membuka mataku. Dunia ini luas sekali. Beragam. Dinamis. Aku dapat pelajaran mahal: tidak ada yang benar-benar permanen. Dan satu-satunya senjata yang bisa kita bawa ke mana-mana adalah kemampuan beradaptasi.

Di akhir semua ini, yang tersisa justru rasa syukur. Dipaksa berganti-ganti lingkungan ternyata menempa mental jadi lebih tangguh. Ketakutan akan perubahan pelan-pelan tergantikan oleh kesiapan menghadapi ketidakpastian.

Tiga sekolah mungkin telah merenggut konsistensi masa remajaku. Tapi mereka memberiku satu pemahaman berharga: rumah itu bukan cuma gedung sekolah atau bangku di kelas. Rumah adalah kemampuan kita sendiri untuk berdamai dengan perubahan, dan tetap tumbuh di mana pun kaki ini berpijak.


Halaman:

Komentar