Bel tanda masuk itu berbunyi lagi. Yang ketiga kalinya. Bunyinya sih sama saja, tapi di telinga, ia terdengar seperti sinyal dimulainya sebuah babak baru yang melelahkan.
Di depan sana, ada pintu kelas baru. Wajah-wajah asing. Dan lingkaran pertemanan yang sudah rapat, harus ditembus lagi dari nol. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyum paling ramah. Padahal, cadangan energi untuk bersosialisasi itu sudah benar-benar habis terkuras di dua sekolah sebelumnya.
Hari itu, sekali lagi, sebuah peran harus dimainkan. Bukan sebagai diriku yang sebenarnya, tapi sebagai seorang aktor yang berjuang mati-matian agar tidak tenggelam dalam kesunyian.
Akar yang Terpaksa Dicabut
Jujur saja, kepindahan ini bukan pilihanku. Ini konsekuensi dari pekerjaan orang tua yang menuntut mobilitas tinggi. Di sekolah pertama, dunianya terasa utuh. Aku masih ingat betul, hampir setiap malam diisi dengan main game lewat video call bersama teman-teman. Gak ada hari yang sepi.
Tapi seiring pindah, frekuensi itu makin menipis. Lama-lama, hilang sama sekali. Ritual yang dulu menghangatkan itu lenyap, meninggalkan kekosongan yang sulit banget diisi ulang.
Lalu, di sekolah kedua, sempat ada harapan. Awalnya ragu, tapi takdir malah mempertemukanku dengan circle pertemanan yang luar biasa. Di sana, aku merasa luwes. Gak perlu banyak berpura-pura. Kehangatannya sampai-sampai membuatku lupa, kalau statusku sebagai ‘pendatang’ belum berakhir.
Aku sempat yakin perjalanan ini udah sampai di final. Eh, ternyata salah. Keadaan memaksa kami pindah lagi. Dan, hancur sudah fondasi yang susah payah kubangun. Kembali ke titik nol.
Artikel Terkait
Koalisi Sipil Serukan Darurat Hukum di Hari Pertama 2026
Tahun Baru 2026: Dentuman Ganti Sorak, Tudingan Serang-Menyerang Rusia-Ukraina
Pengakuan Israel Picu Gelombang Kemarahan di Jalanan Somaliland dan Somalia
ICW Bongkar Afiliasi Politik di Balik Program Makanan Bergizi Gratis