Segala puji bagi Allah, Pencipta semesta. Lihatlah betapa beragamnya kehidupan yang Dia hadirkan. Karakter manusia, bahasa, selera, hingga jalan hidup semuanya tak pernah benar-benar sama. Dalam keragaman itu, hidup berdenyut. Terkadang indah, seringkali membingungkan, dan tak jarang melelahkan.
Kita tentu membayangkan harmoni sebagai keadaan ideal. Lingkungan yang ramah, hubungan yang hangat, rasa aman yang menyelimuti. Tapi kenyataan? Bisa jauh berbeda. Ada hukum sebab-akibat yang bekerja, ada peristiwa di luar kendali kita, dan ada sikap orang lain yang sulit sekali kita tebak.
Dalam perjalanan, kita pasti akan bertemu penolakan. Ada kekecewaan, sikap acuh tak acuh, bahkan perlakuan yang menyakitkan. Jangan harap semua orang akan menyukai kita. Tidak semua keadaan akan sejalan dengan harapan. Di titik-titik seperti inilah hati kerap lelah dan pikiran terasa sesak.
Namun begitu, ada satu kesadaran penting yang perlahan harus kita terima: kita tak punya kendali atas dunia di luar diri kita. Mustahil mengatur cara orang lain bersikap atau berpikir. Yang benar-benar bisa kita pegang cuma satu: bagaimana kita merespons.
Menjalani hidup dengan rasa tenang sebenarnya adalah pilihan. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena kita memutuskan untuk menjaga batin tetap waras. Merawat suasana hati, mengelola emosi, mengatur pola pikir ini tanggung jawab pribadi yang sering kita lupakan.
Ketenangan batin itu tidak datang dari luar. Ia tumbuh dari dalam. Ia muncul saat kita berhenti menghabiskan energi untuk mengurusi hal-hal di luar jangkauan, lalu beralih fokus pada apa yang bisa kita perbaiki: sikap, niat, dan cara kita memaknai setiap kejadian.
Di sisi lain, harmoni dalam hubungan dengan diri sendiri atau orang lain selalu berawal dari dalam. Apa yang kita pancarkan punya kecenderungan untuk kembali. Ketika kita memancarkan ketenangan, lingkungan sekitar perlahan merespons dengan energi yang serupa.
Refleksi diri adalah jalan menuju keseimbangan itu. Dengan memberi ruang untuk berpikir jernih dan merasakan, kita belajar menyelaraskan hati dan akal. Di sanalah rasa syukur menemukan bentuknya yang paling sederhana: menerima hidup apa adanya, sambil tetap berupaya menjadi pribadi yang lebih utuh dan tenang.
Memang, hidup mungkin tak akan pernah sepenuhnya harmonis. Tapi selama kedamaian dalam diri kita terjaga, selalu ada tempat untuk pulang.
Artikel Terkait
BMKG Imbau Warga Sulsel Waspada Hujan dan Angin Kencang Seharian
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK