MURIANETWORK.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek tak lengkap tanpa kehadiran hidangan-hidangan khusus di meja makan. Lebih dari sekadar santapan, makanan-makanan ikonik seperti nastar, kue lapis, dumpling, dan kue keranjang sarat dengan makna filosofis dan doa untuk kemakmuran, keselamatan, serta rezeki yang berlimpah di tahun yang baru. Seorang pakar Fengshui menjelaskan bagaimana tradisi kuliner ini menjadi inti dari harapan dan silaturahmi dalam budaya Tionghoa.
Makna Filosofis di Balik Rasa Manis
Di balik kelezatannya, setiap hidangan Imlek menyimpan pesan yang dalam. Nastar, dengan isian selai nanas berwarna keemasan, misalnya, bukanlah kue biasa. Dalam bahasa Hokkian, nanas disebut "ong lai", yang kerap diasosiasikan dengan datangnya kemakmuran dan kehebatan.
Pakar Fengshui Yulius Fang menguraikan, “Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya datang seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ (nanas) ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” tuturnya.
Harapan serupa terwakili oleh kue lapis. Susunannya yang rapi dan berlapis-lapis secara simbolis merepresentasikan doa agar rezeki dan keberuntungan juga datang bertumpuk kepada penghuni rumah sepanjang tahun.
Dumpling: Simbol Kehangatan dan Sejarah
Tak hanya hidangan manis, sajian gurih seperti dumpling atau pangsit juga memiliki tempat istimewa. Hidangan ini konon berawal dari kreativitas masyarakat Tiongkok kuno dalam menghadapi musim dingin yang keras, ketika pasokan sayuran sulit didapat. Adonan tepung yang diisi daging menjadi solusi yang mengenyangkan dan menghangatkan. Kini, proses membuat dumpling secara bersama-sama seringkali menjadi momen perekat keluarga sebelum menyambut Sincia, menciptakan kehangatan yang tak hanya terasa di perut, tetapi juga di hati.
Aturan Tak Tertulis Seputar Kue Keranjang
Di antara semua hidangan, kue keranjang atau nian gao mungkin menyimpan tradisi yang paling unik dan kerap luput dari perhatian. Meski disajikan dengan indah untuk menyambut tamu, ada aturan tak tertulis yang mengatur konsumsinya.
Yulius Fang menjelaskan, “Jadi meskipun kue keranjang disediakan untuk disuap, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelasnya.
Alasannya cukup praktis: tekstur kue keranjang yang baru dibuat sangat lengket dan kenyal, sehingga kurang cocok disantap secara spontan oleh tamu. Fungsi utamanya justru sebagai hantaran atau bingkisan. Membawa kue keranjang saat berkunjung ke sanak saudara adalah simbol kebersamaan dan harapan agar mereka yang menerimanya "naik" (gao) derajat kehidupannya di tahun baru.
Hantaran sebagai Pengikat Silaturahmi
Tradisi saling mengirim makanan dan buah-buahan, seperti jeruk yang melambangkan keberuntungan atau apel yang berarti kedamaian, merupakan jantung dari silaturahmi Imlek. Praktik ini, terutama dari anak kepada orang tua, memperkuat ikatan keluarga.
Dengan stok berbagai macam hidangan dan buah yang melimpah di rumah orang tua, setiap tamu yang datang bersilaturahmi dapat disambut dengan sukacita dan kemurahan hati. Ritual berbagi ini pada akhirnya menciptakan suatu siklus keberkatan, di mana kasih dan harapan baik untuk tahun baru terus mengalir, dibungkus dalam kehangatan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Artikel Terkait
Operasi Keselamatan Toba 2026: Lebih dari 10 Ribu Penindakan dalam 10 Hari
Gus Yaqut Ajukan Praperadilan Bantah Status Tersangka KPK
Pemulihan Pascabanjir Sumatera Diproyeksikan Tuntas dalam 3 Tahun
Timnas Indonesia U-17 Kalah 2-3 dari Tiongkok, Tunjukkan Peningkatan Signifikan